Uncategorized

Drama dan Pengalaman Unik di Bengaluru, Part 2

Lupa kalau masih ada hutang cerita satu part lagi tentang Bengaluru. Semakin lama nanti kalau ditunda sudah lupa bagaimana ceritanya. Mari kita lanjutkan saja.

Mencari Nasi Putih

Makanan yang pertama kali saya makan di Bengaluru adalah kebab. Kami membeli kebab hanya satu saat itu karena niatnya hanya mau merecehkan uang yang baru kami ambil di ATM untuk tips supir yang menjemput kami di Bandara. Nama kebabnya adalah House of Kebabs. Letaknya di semacam lapangan di dekat parkiran bandara. Di tokonya ada tulisan Halal dengan huruf Arab dan tulisan “We only serve Halal Meat”. Jadi Alhamdulillah aman. Rasanya enak walau di setiap gigitan rasa bawangnya sangat kuat. Semacam teaser untuk rasa makanan di India.

Makanan berikutnya yang kami makan adalah saat mendapatkan sarapan di hotel. Banyak pilihannya, yang saya ingat adalah ada Dosa, Nasi Biryani, Idli dan Sambar, Vege Sandwich, dan makanan lainnya yang saya tidak ingat namanya. Saya excited untuk mencoba berbagai makanan tersebut. Setelah makan makanan tersebut rasanya sangat nyangkut di lidah. Tiba tiba kangen nasi goreng (baru hari pertama padahal ><). Malamnya, seperti yang pernah saya ceritakan, kami makan di McD, kami mencari nasi putih dan tidak ada. Semua menu sudah disesuaikan dengan cita rasa India. Begitupun makanan-makanan yang disediakan di konferensi dan hotel. Kami pun mencari ke foodcourt mal dekat venue konferensi. Ada yang jual nasi putih benar-benar putih, tetapi harganya mahal sekali. Kami akhirnya menemukan restoran yang menjual makanan Asia lainnya seperti Chinese Food, Mie Goreng Malaysia, Nasi Singapura. Ya rasanya familiar, tetapi bumbunya lebih tajam dari biasanya, dan saya juga kesulitan menghabiskannya. Oh iya porsi di sana banyak. Rasanya seperti dua kali porsi di Indonesia. Setelah 3 hari memakan makanan yang berbumbu banyak (melebihi rendang), saya langsung sariawan dan bawah lidah saya membengkak. Biasanya saya langsung mencari larutan cap kaki tiga atau yang ada badaknya, tetapi tidak ada. Alhamdulillah sarapan di hotel ada yang menyediakan roti dan buah sebagai alternatif makanan sekaligus meringankan rasa sakitnya.

Baru di hotel terakhir saya inapi yang menyediakan nasi putih. Tetap harus beli sih tapi masih affordable dan langsung diantar ke kamar. Kebetulan memang bawa bekal rendang dan dendeng balado. Walau sama sama berbumbu banyak, tetap terasa lebih ringan dibanding makanan India. Sambal balado ftw! Oh iya saat hari terakhir kami sempat mengunjungi KFC di dekat hotel dan tidak ada nasi putih juga. Saya mencoba semacam twister dan rasanya lebih pedas dari biasanya, tapi menurut saya sih enak 😊.

IMG_2595

Minuman yang rasanya unik. Susu seperti santan dan ada bumbu jinten, cabe, dan jahenya.

Belanja Oleh-oleh

Walau sebenarnya belanja oleh-oleh bukanlah suatu keharusan, tapi rasanya sayang saja kalau tidak membawa sesuatu selain kenangan wkwk. Kami mencoba mencari tempat membeli oleh-oleh yang relevan dan dapat dijangkau. Kebetulan di samping hotel terakhir ada mal. Namanya Sapphire Center kalau tidak salah, lokasinya di Yeshwanthpur. Di mal itu ada supermarket dan toko baju. Di supermarket tersebut, banyak permen unik dan coklat import dengan harga lebih murah. Saya membeli permen isi Masala, coklat coklat, ladoo, dan bumbu bumbu instan khas india. Walau sempat trauma, tapi tetap ingin mencoba lagi XD. Yang paling berkesan itu permen isi Masala itu. Bukan permen yang punya problem ya guys, wkwk. Masala itu adalah rempah-rempah. Saat teman-teman di kantor makan permen itu mereka bilang kalau rasanya seperti permen tapi isinya bumbu rendang. Di toko baju dekat supermarket itu sebenarnya mirip Ria Busana di Indonesia menurutku. Teman saya membeli baju dan tas bermotif khas India. Saya sendiri sih tidak beli apa apa di sana karena harganya yang menurut saya tidak terlalu murah.

Selanjutnya kami mencari saree, selendang khas India (Dhupatta), dan gelang gelang gemerincing yang biasanya kami lihat dipakai di film-film. Saat kami cari di google, tempat beli oleh-oleh seperti itu yang terlengkap ada di Commercial Street. Kami pun ke sana naik Uber. Saat sampai dan melihat suasananya kami langsung teringat dengan Pasar Baru di Bandung.

img_2142

Salah satu jalan di area Commercial Street. Ada masjid cukup besar tapi yang ini hanya untuk laki laki

Di Commercial street ini kami membeli kain Saree. Harganya sekitar 650 rupee (sekitar 130rbuan) setelah ditawar. Oh iya enaknya kalau beli di pasar semacam ini bisa ditawar. Kebetulan penjualnya baik dan tahu Indonesia. Kebanyakan di India ini lebih tahu Malaysia dibanding Indonesia. Kami lebih sering disangka orang Malaysia. Selain Saree kami juga membeli Dhupatta. Harganya bervariasi dimulai dari 100 rupee saja (sekitar 20rbu) tanpa ditawar. Teman saya membeli gelang-gelang di Commercial Street juga tapi saya kurang tau harganya karena saya saat itu sedang mencari tempat ibadah dan menemukan masjid seperti pada gambar di atas. Masjidnya cukup besar namun saat saya ke sana, saya diberitahu kalau masjid itu khusus untuk ikhwan. Masjid untuk akhwat ada di gang lain.

IMG_0049

Pelataran Masjid di Commercial Street

Selain di Commercial Street, kami membeli oleh-oleh di Malleshwaram. Saat sampai di sana, saya teringat dengan Pasar Simpang Dago karena memang mirip semacam pasar, di pinggir jalan raya tetapi produk yang dijual lebih beragam. Saya membeli gelang-gelang, harga satu set gelang adalah 100 rupee (sekitar 20ribu rupiah). Karena salah satu teman saya ada yang menitip Mehandi, semacam pacar Arab yang sering dipakai pengantin wanita India di tangannya, kami menelusuri jalan dan setelah bertanya dengan penduduk, akhirnya kami menemukannya di pinggir jalan depan sebuah toko. Selain menjual Mehandi, penjualnya pun menyediakan jasa pemasangan Mehandi tersebut. Harga satu buah Mehandi adalah 10 rupee dan harga pemasangannya 100 rupee per tangan. Hanya teman saya yang akhirnya mencoba memakai Mehandi, saya pernah pakai dan tidak terlalu menyenangkan.

Satu hari di Malleshwaram

 

Mengunjungi Toko Buku di MG Road

Mengunjungi toko buku adalah salah satu tujuan di dalam daftar tempat yang kami ingin kunjungi di Bengaluru. Kabarnya harga buku di India sangat murah, karena pemerintah India membeli lisensinya. Kami diberitahu oleh teman untuk mengunjungi Blossom Book House di Church Street dekat MG Road. Saat sampai di jalan tersebut, kami menemukan toko buku lain, namanya Bookworm. Kami pun masuk dan menghabiskan waktu yang cukup lama di sini karena koleksi bukunya sangat banyak dan harganya yang murah. Saya membeli beberapa buku yang memang sudah lama saya ingin beli sekitar 7 buku dan totalnya hanya sekitar 2400 rupee atau sekitar 480ribu rupiah. Bukunya asli, tapi memang ada tulisan kalau hanya boleh dijual di India. Di sana penjualnya bisa berbahasa Inggris dan senang memberi rekomendasi buku yang bagus untuk dibaca sesuai dengan genre yang disukai.

photo6068983643780524354

Buku yang dibeli di sana. Beberapa direkomendasikan oleh pemilik toko.

IMG_2649

Pelataran BookWorm

IMG_5517

Church Street, mirip Jalan Braga XD

Hal Menarik Lainnya

Hal menarik lainnya yang saya temukan di sana adalah semua toko di sana sudah tidak menyediakan plastik. Saat membeli gelang-gelang saya diberikan kantong kertas untuk membawa gelang tersebut. Di toko buku diberikan kantong kain untuk membawa buku-buku. Di supermarket, jika kami tidak membawa kantong kami perlu membeli totebag untuk membawa belanjaan kami. Saat di tempat makan pun jika kami membeli makanan yang dibawa pulang kami diberikan kantong kertas dan sendok dan garpu kayu sebagai alat makan. Polusi di sana lebih minim dibandingkan jakarta. Saya bisa melihat benda-benda langit dengan jelas. Bis di sana tidak seperti kopaja yang mengeluarkan asap hitam.

Kereta di sana sangat panjang sehingga saat saya memandangi kereta yang lewat saya sampai kebingungan kok belum habis-habis, wkwk. Di sana juga sudah ada MRT, disebutnya metro kalau saya tidak salah, menghubungkan ke berbagai tempat yang menjadi pusat kegiatan. Sebenarnya kami bisa naik metro itu untuk menuju berbagai tempat yang kami kunjungi, tapi kami tidak berani. Mungkin lain kali, hoho.

IMG_2525

Pintu Masuk MRT di MG Road

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s