Uncategorized

Memories Part 2

Pada kesempatan kali ini, saya akan melanjutkan seri “Memories” bagian ke-2. Belum tahu sih akan ada sampai bagian ke berapa. Seingatnya saja. Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan pengalaman dan momen bersama keluarga dan teman yang sudah tiada.

Sepeda dan Sepatu

Saat pindah dari Jakarta ke Bogor, di umur 7 tahun, tentunya saya harus beradaptasi lagi dengan lingkungan baru. Beruntungnya saya punya tetangga belakang rumah yang umurnya sepantaran dengan saya. Dia yang mengajak saya kenalan terlebih dahulu dan kemudian menjadi teman dekat saya: teman mengaji, teman bermain, dan bertualang. Kalu teman bermain dan belajar sih Bobo. Kebetulan sekali rumah neneknya dekat juga dengan rumah nenek saya. Rumah nenek saya di Sukamiskin. Rumah neneknya di Ujung Berung.

Pengalaman yang paling berkesan yaitu saat kami berjualan sepatu berkeliling komplek menggunakan sepeda. Kami memang terbiasa bermain sepeda bersama, baik pagi, atau sore. Baik saat puasa atau tidak. Mungkin karena masih SD, jadi energinya masih banyak. Saat ayah saya memiliki banyak stok sepatu untuk dijual, ibu saya memberi ide untuk kami untuk menjualnya dengan berkeliling kompleks menggunakan sepeda. Sekalian mengisi liburan saat itu. Kami lebih banyak menawarkan ke ibu-ibu yang sedang mengobrol di depan rumah. Lintas RT dan RW. Kadang ke luar komplek. Saya saat itu masih sangat pemalu, saya masih ragu-ragu dan kurang bisa menyusun kata-kata marketing, wkwk. Saya banyak belajar dari teman saya itu bagaimana menawarkan barang hingga ibu-ibu mau membeli.  Pernah juga kami kehujanan, dan meneduh terlebih dahulu. Sepatunya sih akhirnya tidak laku semua, tapi keuntungannya lumayan. Saya lupa saya pakai keuntungannya untuk beli apa atau mungkin saya tabung.

Membentuk Kelompok Bernyanyi

Pernah dengar grup penyanyi cilik religi bernama “Sakha” ? Yang anggotanya Marshanda, Novi, dan Atras. Berikut salah satu cover albumnya:

Sakha

Saya saat itu hapal semua lagu dari grup Sakha tersebut. Semua itu berkat tetangga saya, yang rumahnya hanya berjarak dua rumah. Beda dengan teman saya di cerita sebelumnya, teman saya yang ini berbeda dua tahun umurnya di atas saya. Saya sering bermain ke rumahnya. Dia suka sekali dengan grup Sakha ini. Dia mengajak saya dan satu tetangga lagi untuk membentuk grup bernyanyi dan menyanyikan semua lagu setiap kami main ke sana. Dia menjadi Marshanda (menurut saya memang dia mirip dengan Marshanda), teman saya lainnya menjadi Novi, dan saya menjadi Atras, karena saya rambutnya pendek wkwk dan paling tomboy. Kami sering latihan, tapi saya lupa untuk apa, soalnya seingat saya tidak pernah tampil juga ke luar, wkwk. Sepertinya saya mulai mengenal nada setelah bergabung di grup ini XD.

Dua Kakek yang Luar Biasa

Saya termasuk orang yang beruntung masih merasakan mempunyai Kakek, hingga kemarin Kakek saya dari ayah saya (Angku) meninggal dunia. Kakek saya dari ibu saya (Aki) meninggal dunia pada tahun sebelumnya, di bulan yang sama, bulan Desember.

Kedua kakek saya ini luar biasa. Angku adalah seorang veteran dan Aki adalah anggota ABRI. Angku masih bisa membawa mobil dan travelling ke luar propinsi di umurnya yang sudah lebih dari 90 tahun. Beliau rajin membaca Al-Quran. Aki di umurnya yang menginjak lebih dari 70 tahun, masih rutin bekerja di rumah, membetulkan banyak hal sendiri, berkebun, aktif bergerak. Rasanya malu sendiri kalau saya mager, karena kedua kakek saya ini rajin.

Momen yang paling saya ingat bersama Angku, adalah saat Angku tidur di rumah saya. Bantalnya pasti harum banget. Kakek saya yang ini memang senang menggunakan minyak rambut. Angku selalu memberikan nasihat untuk rajin belajar, menjadi yang terbaik, dan patuh kepada orang tua. Saya belum jadi cucu yang baik, karena saya masih sering melanggar nasihatnya ini.

Mungkin karena saya sempat tinggal di rumah Aki saat kuliah, saya memiliki lebih banyak momen bersama Aki. Waktu umur 4 tahun, saya pernah naik bis dari Jakarta ke Bandung hanya bersama Aki dan merepotkan Aki karena saya mabuk darat sehingga harus ganti baju terus, wkwk. Saat saya mengurus beasiswa ke Annex, Aki menemani saya karena mungkin khawatir saya tersesat di Bandung. Aki juga menemani saya ke dokter saat saya gejala tipes. Ya, saya ini memang cucu yang merepotkan kalau dipikir-pikir. Aki selalu berpesan untuk membanggakan orang tua.

Semoga Angku dan Aki tenang di alam yang sekarang. Semoga saya bisa segera memenuhi nasihat-nasihat Angku dan Aki. Aamiin

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s