Uncategorized

Sabar dan Menerima

Saya masih ingat perkataan dosen Probabilitas dan Statistika saat kuliah pertama, beliau memberikan semacam peringatan kepada mahasiswanya. Saya sebenarnya lupa kata-kata tepatnya *lagi*. Kurang lebih seperti ini: Kalau nanti di akhir perkuliahan mendapatkan nilai yang mepet atau mendekat nilai atasnya, tidak perlu memohon-mohon agar nilainya bisa naik ke nilai atasnya tersebut. Contohnya: Misalnya nilai kita mendapat nilai 78 dan untuk mendapat nilai A adalah 80, terima sajalah. Beliau bilang lebih baik sabar dan menerima, Insya Allah segala kelebihan nilai tersebut akan menjadi tabungan kebaikan, akan “terbalas” di mata kuliah lain atau tempat lain. Tidak ada yang sia-sia.

Sesungguhnya saya kurang mengerti saat beliau menyampaikan hal itu. Bagaimana bisa nilainya “terbalas” di mata kuliah lain, namun akhirnya saya mengerti saat mengalaminya di kemudian hari. Saya mendapatkan nilai yang cukup mepet ke suatu indeks di mata kuliah tersebut. Sesuai nasihat ibunya, saya tidak berniat untuk mengusahakan nilai tersebut menyentuh batas atasnya. Saya sebenarnya memang bukan tipe yang maksa sih wkwk. Kemudian saya bertemu Ibu di mata kuliah lain, mata kuliah yang lebih sulit, kalau tidak salah Intelejensia Buatan. Di mata kuliah ini, yang saya kira di awal saya akan mengulang, ternyata tidak, dan bisa mendapatkan nilai yang baik. Saya seperti diberikan kemudahan dan nilai akhir yang didapatkan akhirnya pas-pasan di suatu indeks, kurang sedikit saja bisa ke indeks di bawahnya XD. Mungkin ini maksud ibunya terbalaskan di mata kuliah lain.

Pengalaman sabar dan menerima lainnya yaitu saat bekerja. Saya pernah sedikit kecewa karena teman yang bekerja dengan beban yang sama sudah naik duluan dan ternyata gaji orang yang baru masuk lebih besar dari saya *salah sendiri saya nanya2*. Saya sempat sedih dan terpikir untuk bekerja tidak terlalu sepenuh hati, tetapi saya tiba-tiba ingat kata-kata Ibu Dosen bahwa tidak ada yang sia-sia, jadi saya menerima saja dan bersabar. Alhamdulillah akhirnya gaji saya naik melebihi ekspektasi saya dan tentu saja belajar dari kesalahan sebelumnya, saya tidak mau tahu atau memberi tahu nominal gaji ke orang lain. Saya juga manusia, yang tetap iri padahal kebutuhan orang kan beda-beda.

Sama seperti saat ini, saat wabah Corona melanda, saya harus bersabar dan menerima keadaan. Rencana jalan-jalan bersama teman-teman batal, padahal sudah beli tiket. Saya juga sudah lama tidak bertemu dengan orang tua, adik-adik, dan juga teman-teman dekat. Bulan Ramadan ini benar-benar sahur sendiri dan buka puasa sendiri. Sempat sih satu dua kali bersama teman kosan yang masih ada, sisanya benar-benar sendiri. Jauh berbeda dengan tahun lalu. Idul Fitri pun akan dijalani sendiri di kosan. Rumah saya sebenarnya tidak sejauh teman-teman lainnya, tetapi kalau pulang sekarang, sia-sia dong pengorbanan selama dua bulan untuk tidak menularkan virus ke keluarga, wkwk. Alhamdulillah orang tua saya sangat mengerti dan tidak memaksa saya pulang. Soalnya takut juga ketularan XD. Orang tua saya juga kasihan dengan tenaga kesehatan.

Saya masih beruntung karena masih bisa WFH dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang perlu berjuang menghadapi wabah secara langsung dengan APD lengkap dan segala ketidaknyamanan lainnya. Jadi, saya pikir tidak apa-apa untuk tidak bertemu dengan keluarga untuk sementara ini. Insya Allah jika kita bersabar dan menerima, akan ada sesuatu yang baik yang menanti di depan. Biarlah orang-orang yang memaksa tetap mudik atau yang malah ke mal cari baju. Jangan iri atau malah ikut-ikutan. Kesal pun hanya menghabiskan energi. Semoga pemerintah segera diberikan taufik dan hidayah untuk membuat kebijakan yang lebih baik lagi.

Selamat menyambut Idul Fitri 1441 H!

Semoga kita ‘menang’ dalam menghadapi ujian kita masing-masing ya.

Categories: Uncategorized

2 replies »

  1. haha, aku pernah bgt tuh minta tugas tambahan biar nilai calculus naik 0.5. eh bapaknya lgsung aja naikin tanpa ngasih tugas tambahan. Kalo aku tipe yang berusaha dulu gitu sih jul, baru nanti ikhlas wkkw, tp suka jg sih ama pandanganmu.

    • Wkwk iya tetap harus berusaha dulu sih mba, tp kalau nilai itu kan karena udh dipesenin sama ibunya g usah minta wkkwk

      Ini kasusnya yg g usaha dlu ya wkwkk, gaji g usaha naikin soalnya waktu itu ak memikirkan banyak mudharatnya kalau minta dibanding diam wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s