Health

Rapid Test

Minggu lalu saya tiba-tiba ditelepon oleh HR. Saya ditawarkan untuk mengikuti rapid test. Hanya sebagian karyawan yang ditawarkan, diprioritaskan untuk yang pernah sakit dan menunjukkan gejala-gejala COVID-19. Saya sebenarnya tidak termasuk dalam daftar prioritas sebelumnya, karena saya sakit sudah cukup lama, sekitar 2 bulan lalu, itupun sudah terbukti saya sakit tipes. Namun karena beberapa teman saya yang ada di dalam daftar tidak dapat mengikuti rapid test dan akses saya cukup mudah untuk ke kantor, saya mendapat kesempatan tersebut.

Saya sempat deg-degan sebelumnya. Bagaimana jadinya kalau hasilnya positif. Namun deg-degan saya tersebut tertutupi dengan rasa excited. Excited karena saya ada alasan untuk datang ke kantor karena tesnya di gedung yang sama. Selain itu, saya juga jadi ada kesempatan untuk naik MRT atau busway lagi.

Seperti biasa, sebelum keluar yang agak jauh, saya bersiap-siap terlebih dahulu, membawa persiapan “new normal” kalau kata orang-orang sekarang. Selain dompet, ID Card yang biasa saya bawa ke kantor di era normal, saya membawa peralatan tambahan sarung tangan plastik, tisu kering, tisu basah, masker kain cadangan, dan hand sanitizer. Saat persiapan, saya baru menyadari hand sanitizer saya hilang di perjalanan keluar sebelumnya, sehingga saya perlu mencari botol pengganti untuk isi ulang. Karena tidak ada, saya akhirnya memindahkan isi botol hair serum ke tempat lain untuk digunakan sebagai kontainer hand sanitizer. Kurang lebih seperti ini peralatan tambahannya:

Perlengkapan Keluar (lupa membawa sabun XD)

Saya sudah berencana untuk naik MRT untuk berangkat ke kantor, namun saya terlalu lambat dalam bersiap-siap sehingga waktu sudah terlalu mepet. Sebenarnya mungkin bisa saja, namun saldo flazz saya sedikit sehingga perlu mampir ke ATM dan mungkin akan membutuhkan waktu yang lebih lama. MRT pun setahu saya dibatasi kapasitasnya, sehingga saya takut saya perlu mengantri lebih lama. Saya memutuskan untuk naik taxi online, karena ojol masih tidak diperbolehkan saat itu.

Setelah sampai di gedung, saya melakukan pemeriksaan tas dan suhu terlebih dahulu. Suhu saya normal, namun sebenarnya saya kurang percaya dengan pemeriksaan suhu menggunakan heatgun. Suhu saya pernah terukur normal saat diperiksa di depan rumah sakit menggunakan heat gun, namun ternyata saat diperiksa di dalam menggunakan termometer kepit ternyata 39 derajat. Setelah pemeriksaan suhu dan tas, saya menuju bilik penyemprotan. Tidak disemprot sampai muka sih.Setelah masuk gedung, saya naik lift menuju tempat pemeriksaan rapid test.

Lift yang sudah ditandai tempat berpijak (Gambarnya kurang proper karena takut dikira norak XD)

Sesuai namanya, rapid test berlangsung sangat cepat. Sesampainya saya di lokasi, saya registrasi terlebih dahulu kemudian langsung ke meja selanjutnya untuk ditanyakan mengenai kondisi kesehatan. Saya ditanyakan apakah saya mengalami keluhan. Saya menjawab kalau saya pernah sakit namun sudah lama dan akhir-akhir ini hanya mengalami pilek kalau kedinginan. Setelah itu saya di persilakan untuk ke meja pengambilan darah.

Oh iya, semua petugas memakai alat perlindungan diri lengkap. Di meja pengambilan darah, saya diminta untuk menggulung lengan. Saya kira sebelumnya rapid test menggunakan darah dari jari yang ditusuk (seperti cek kadar hemoglobin). Petugas pengambil darahnya sedikit kocak walaupun ibu-ibu (maksudku biasanya bapak-bapak yang suka bercanda). Saat mencari pembuluh darah, ibu tersebut sedikit kesulitan, saat ditusuk dan disedot tidak keluar-keluar darahnya. Ibu itu bilang, “Pembuluh darahnya kayak film nih”. Melihat saya terlihat berpikir, ibu itu kemudian menambahkan kembali, “Kejar daku kau kutangkap, pas mau ditusuk pembuluh darahnya kabur”.

Mendengar jawaban ibunya, saya yang mudah terhibur ini langsung nyengir, wkwkw, tapi tidak kelihatan karena pakai masker. Saya sebenarnya sudah sering mendengar ini, setiap ada pengambilan darah petugasnya mengeluh sulit mencari pembuluh darah. Mungkin pembuluh darah saya iseng seperti saya, wkwk. Saya ingin mengambil foto sebenarnya, namun saat saya bertanya apakah boleh ternyata tidak boleh. Setelah diambil darah, saya pergi ke meja selanjutnya. Meja ini adalah meja terakhir, petugas hanya memastikan kembali kontak saya karena hasilnya akan dikirim melalui Whatsapp.

Lokasi tempat rapid test dan tempat saya bekerja berbeda lantai. Setelah selesai rapid test, saya menyempatkan diri untuk melihat apa perbedaan dari kantor saat pandemi ini. Ternyata kantor sedikit direnovasi, dindingnya ditempelkan dekorasi, dan mushalla sudah tidak ada sajadah dan mukena bersama.

Setelah menyelesaikan semua urusan, saya kemudian pulang berencana naik MRT. Saya menyempatkan berfoto-foto depan gedung dan mal di sampingnya (seperti turis XD) dan pemandangan sepanjang jalan. Terlihat norak mungkin, tapi langit sangat mendukung sehingga terlihat bagus, wkwk.

Saya berjalan kaki menuju stasiun MRT dan saat sampai sana saya baru ingat kalau MRT Senayan ditutup. Sempat terpikir untuk jalan kaki namun saya perlu segera pulang karena masih perlu melanjutkan WFH.

Sekian pengalaman rapid test yang saya ikuti. Hasilnya diumumkan melalui Whatsapp sekitar 3 jam kemudian. Alhamdulillah saya lulus *eh*, maksudnya negatif negatif untuk IgG dan IgM. Semoga kita semua dihindarkan dari virus Covid-19 ini. Aamiin.

Categories: Health, Review

1 reply »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s