Uncategorized

Bojonggede, Bogor

Saat mengunjungi homepage wordpress kembali, saya terkejut diberikan pesan seperti ini:

Bukan berarti blog ini sebelumnya ramai sih, tapi mungkin karena sebelumnya lebih sering mempublikasi pos jadi setidaknya ada pengunjung walau hanya sekali sehari, wkwk. Terimakasih atas ucapan untuk tidak menyerahnya WordPress!

Kalau dipikir-pikir, saya bisa menceritakan kehidupan saya selama ini dalam beberapa babak berdasarkan kota tempat tinggal: Babak pra-sekolah di Jakarta (dari lahir hingga kelas 2 SD), Babak sekolah di Bogor (3 SD hingga lulus SMA), babak kuliah di Bandung dan kemudian sekarang adalah babak bekerja di Jakarta. Saya mungkin sering menceritakan babak kuliah dan babak bekerja di dalam blog saya karena merupakan babak yang masih baru di ingatan. Kali ini, saya akan menceritakan babak kehidupan saya di masa sekolah yang paling saya ingat.

Sebenarnya kalau saya bilang kalau saya tinggal di kota Bogor teman-teman saya pasti pada protes: Bojonggede Jul, bukan Bogor. Ya, saya tinggal di suatu kecamatan di Kabupaten Bogor bernama Bojonggede. Bojonggede memiliki stasiun kereta tersendiri yang dilewati KRL Commuter Line jurusan Jakarta Kota-Bogor atau Jatinegara-Bogor. Sebagian besar warganya bekerja di Jakarta (CMIIW, karena bukan berdasarkan statistik sih tapi berdasarkan pengamatan saya saja wkwk). Di lingkungan tempat tinggal saya hampir setiap kepala keluarganya bekerja di Jakarta. Kalau saya berangkat kerja dari rumah, sebelum corona ini tentunya, saya perlu bersaing dengan banyak komuter (orang yang pulang pergi untuk bekerja di tempat yang jauh dari rumahnya dalam satu hari) untuk mendapatkan tempat di kereta. Kereta yang sebelumnya lumayan kosong dari Bogor dan Cilebut, jadi terisi saat sampai di Bojonggede.

Saat SMP dan SMA saya bersekolah di kota Bogor karena sekolahnya lebih bagus di sana (menurut saya dan orang tua). Saat itu saya sebenarnya sedikit sedih karena teman-teman SD saya lebih banyak melanjutkan sekolah di salah satu SMP di Bojonggede yang lebih dekat dari rumah saya bahkan dibandingkan dengan SD saya sebelumnya. Tidak banyak teman saya yang berani bersekolah di kota, karena selain harus tes lagi karena pindah rayon sehingga tidak bisa menggunakan NEM (nilai UN di zaman itu), untuk sekolah di kota berarti perlu naik kereta yang saat itu belum senyaman sekarang dan juga belum seaman sekarang (pernah ada tawuran di kereta bahkan XD)

Saya sepertinya pernah cerita kalau saya perlu berangkat sebelum jam 5.30 agar mendapatkan kereta pertama menuju Bogor agar tidak telat untuk berangkat sekolah. Oh iya, dulu tiket masih berupa karcis kertas yang seinget saya harganya sekitar 1500 untuk perjalanan dari Bojonggede ke Bogor. Berarti bolak balik ongkosnya 3000 rupiah dan jadinya 90ribu sebulan? Tentu tidak. Dulu ada yang namanya abonemen, semacam kartu langganan per bulan. Ada dua macam, satu untuk anak sekolahan (si Doel dong XD), bernama KLS (Kartu Langganan Sekolah) satu lagi untuk orang dewasa bernama KTB (Kartu Trayek Bulanan). KTB harganya 45ribu per bulan kalau tidak salah dan KLS hanya 15ribu per bulan. Murah sekali bukan? Dengan catatan ini hanya untuk yang kereta ekonomi biasa ya bukan kereta ekonomi AC.

Kereta ekonomi AC itu sama seperti KRL yang sekarang, yang pintunya otomatis, jendelanya ketutup, tidak ada orang jualan dan memiliki AC. Kalau kereta ekonomi itu ada pintunya sih tapi biasanya sudah rusak, banyak orang jualan, jendela kebuka (ada yang pernah kelemparan batu) dan yang paling khas: ada orang yang naik di atas. Kurang lebih seperti ini:

Awal Desember Dihapus Tiket KRL Kelas Ekonomi
https://www.beritasatu.com/megapolitan/19247-awal-desember-dihapus-tiket-krl-kelas-ekonomi

Gerbong khusus wanita? Mana ada. Kereta ke Bogor untungnya tidak seramai kereta ke Jakarta sehingga Alhamdulillah tidak pernah terjadi kasus pelecehan ataupun semacamnya selama saya bersekolah. Kalau tawuran sih lumayan sering kejadian. Kalau ada tawuran biasanya kereta berhenti, dulu itu gampang banget memberhentikan kereta. Tentu saja bukan dengan menghadangnya di jalan ya tapi dengan menarik rem darurat. Kalau kereta tiba-tiba berhenti saya langsung mencari tempat aman agar tidak kena senjata orang tawuran. Dulu tidak banyak petugas di kereta ataupun stasiun jadi mudah sekali kumpulan pelajar SMA masuk dan membanting-bantingkan gesper ataupun gir. Saya pernah lihat orang yang berdarah-darah, teriak-teriak, ada juga yang tiba-tiba memukul orang. Banyak hal sih yang tidak menyenangkan terjadi di kereta masa itu, tapi banyak hal yang menyenangkan juga. Saya dan kereta itu love-hate relationship lah kalau bisa dibilang, wkwk

Mengingat Lagi Saat Drum Tam-tam Bercampur Aduk dengan Teriakan Pedagang di Dalam Kereta
https://www.kompasiana.com/indosport/5bcc66e5aeebe114264fa6c4/mengingat-lagi-saat-drum-tam-tam-bercampur-aduk-dengan-teriakan-pedagang-di-dalam-kereta?page=all

Oh iya, kereta juga yang membuat saya hafal banyak lagu, dari lagu lama zaman 80an sehingga lagu terkini. Dulu masih boleh ada musisi kereta masuk dan saat lama menunggu kereta memulai perjalanan di stasiun Bogor biasanya banyak musisi yang bergantian bernyanyi di dalam kereta. Ada juga yang melanjutkan hingga stasiun berikutnya. Ada yang suaranya biasa aja, ada yang suaranya bagus banget. Ada yang lengkap alat musiknya, ada yang kerecekan saja. Yang lengkap itu ada cello, drum portable dan gitar listriknya. Pas dengar kereta sudah tidak ada ekonomi lagi, ada sedikit sedihnya karena tidak ada musisi dan tukang jualannya lagi. Tukang jualan yang serba ada dan serba murah, dari peniti dan jepitan, alat jahit ajaib, buku-buku, kaos kaki, minuman, buah, tahu sumedang, dll. Saya dulu kalau mau beli sesuatu ya beli di kereta saja wkwk.

Stasiun Bogor juga memiliki kisah tersendiri untuk saya. Saya pernah menunggu kereta sampai berjam-jam di sana karena gangguan. Dulu ada perpustakaannya loh walaupun tempatnya kecil dan banyak berisi buku lama. Kalau kereta masih belum ada yang tersedia atau lama datangnya, saya menunggu di sana, walau lebih sering menunggu di pinggir peron sih wkwk karena perpusnya sering tutup. Saya dan geng saya (aseeek) alias tim angker (anak kereta) juga punya kenalan pedagang koran di staiun Bogor. Saya lupa namanya, beliau jadi tempat bertanya kami mengenai informasi terkini wkwk.

Karena sudah panjang, lanjut di pos berikutnya ya, pos ini dipikir-pikir lebih banyak membahas mengenai kereta ya. Selanjutnya tentang Bogor deh wkwk. Terimakasih sudah membaca XD.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s