Uncategorized

Kisah Kala Opname: Pra Operasi

Minggu lalu saya baru menjalani sebuah operasi yang cukup besar karena ada benjolan di leher. Bukan gondok, tapi semacam tumor yang perlu diangkat agar tidak membesar. Sebenarnya cukup riskan di masa pandemi ini, tapi saya merasa perlu segera dilakukan karena saya mengalami ketidakstabilan hormon tiroid yang menyebabkan ketidakstabilan emosi, rambut rontok, cepat mengantuk, dan sering lemas. Setelah dokter selesai cuti karena masa psbb sudah selesai, saya kembali kontrol dan diputuskan untuk operasi pada bulan ini.

Sebelum operasi, diperlukan pemeriksaan kesehatan penunjang operasi ke beberapa dokter: dokter penyakit dalam, dokter paru, dokter anastesi, dan dokter jantung. Pemeriksaan ini diperlukan untuk mengetahui resiko dan persiapan tambahan apa yang perlu dilakukan. Dari pemeriksaan tersebut Alhamdulillah saya tidak memiliki pertimbangan khusus kecuali perlu dilakukan penguapan menggunakan nebulizer sejam sebelum operasi.

H-1

Satu hari sebelum operasi saya perlu diopname terlebih dahulu untuk dipantau kesiapan dan kesehatannya. Oh iya, karena pandemi ini pasien hanya boleh ditemani oleh satu orang pendamping saja. Saya ditemani oleh ibu saya. Sesampainya di rumah sakit, saya antri mendaftar kamar rawat inap. Ternyata cukup banyak juga yang mendaftar. Kalau saya lihat-lihat sih lebih banyak mendaftar untuk melahirkan.

Saya akhirnya mendapatkan kamar di suatu gedung di lantai 4. Ini merupakan kamar saya yang pertama (saya berpindah kamar sebanyak 3 kali). Satu kamar diisi oleh dua pasien. Pengalaman saya dengan masing-masing teman sekamar saya cukup unik sehingga akan saya bahas di pos terpisah. Yang pasti di kamar pertama ini, pendamping pasien sekamar ini kaget karena saya terlihat sehat-sehat saja untuk diopname.

Malam sebelum operasi awalnya berjalan-jalan lurus-lurus saja. Saya sudah siap untuk istirahat sambil melakukan video call dengan teman-teman. Ibu saya juga sudah siap tidur. Video call sedang seru-serunya saat tiba-tiba suster masuk dan memanggil ibu saya. Saat itu kurang lebih jam 10 malam. Ternyata kantong darah di PMI sedang kosong dan saya membutuhkan 2 kantong darah lagi untuk operasi besok karena HB saya cukup rendah. Suster tersebut mengatakan kalau semenjak pandemi ini semakin berkurang pasokan darah dari pendonor rutin. Saya kaget karena pemberitahuan yang sangat tiba-tiba ini. Saya perlu mendapatkan pendonor yang bisa menyumbangkan darahnya di malam hari itu juga.

Saya sesungguhnya cukup beruntung karena sebagian besar keluarga saya memiliki golongan darah yang sama. Masalahnya, bapak dan adik saya ada di Bogor. Saya kemudian menanyakan ke teman-teman saya apa ada yang golongan darahnya sesuai dan tentu saja available untuk mendonorkan darahnya pada malam itu juga. Saat itu besoknya masih hari kerja, sehingga saya ragu ada yang bisa datang semalam itu. Tidak hanya datang ke rumah sakit, namun juga ke PMI pusat di Kramat Raya.

Alhamdulillah ada teman kantor saya yang bersedia. Dia bersama ibu saya mengurus surat pengantar dan kemudian pergi ke PMI Kramat. Saya tidak boleh ikut dan diminta untuk istirahat. Jam setengah 3 pagi saya terbangun dan ternyata ibu saya baru selesai mendonorkan darah. Teman saya langsung pulang setelah dari PMI. Semoga amal kebaikan ibu dan teman saya dibalas lebih baik oleh Allah SWT. Semoga saya juga bisa menyempatkan waktu dan tenaga seperti ibu dan teman saya tersebut.

H-0

Pagi tiba dan perasaan saya masih deg-degan. Saya mencoba membaca buku yang saya bawa namun tetap tidak fokus. Mau makan tapi harus puasa dari 6 jam sebelum operasi. Saya resah karena akan dibius total. Mungkin saya terlalu banyak menonton drama sehingga saya memastikan saya akan memilih jalan yang bercahaya agar bisa siuman. Nyatanya sih tidak ada pilihan seperti itu saat dibius XD

Sejam sebelum operasi saya diberikan Nebulizer untuk memperlancar jalan pernapasan ke paru-paru. Ini pertama kali saya pakai dan membuat pernapasan lebih lega. Kurang lebih alatnya seperti ini:

Sebenarnya suster sempat berkata kalau operasi mungkin diundur karena kantong darah baru siap sehari setelah pendonoran. Saat jam 10 (jadwal operasi) tiba tidak ada kabar apa-apa. Beberapa menit kemudian datang seorang porter membawa kursi roda. Saya diantar ke ruang operasi menggunakan kursi roda walau saya merasa masih kuat untuk berjalan. Saat di depan ruang operasi saya berpamitan dengan ibu saya, cium tangan (saya lupa kalau sedang pandemi).

Kisah di dalam ruang operasi dan ruang ICU dilanjut di episode lainnya ya XD

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s