Uncategorized

Kisah Kala Opname: Operasi dan Setelahnya

Saya baru menyadari sesuatu saat masuk ke dalam ruang operasi: ternyata itu bukan ruang operasi. Saya baru memasuki semacam ruang tunggu pasien. Bukan ruang tunggu dimana orang menunggu dengan duduk, namun dengan berbaring di atas kasur rumah sakit, berbaris berjajar horizontal. Ruangannya cukup gelap dan tampak tua, membuat suasana menjadi sedikit menyeramkan walau saya tidak menggunakan kacamata (kacamata sudah dititipkan ke ibu). Setelah saya masuk, saya kemudian diminta berbaring di salah satu kasur. Saya mendengarkan suara di sekitar saya sambil menunggu. Terdengar dokter menanyakan satu-satu ke setiap pasien untuk mengecek kesiapan operasi: “Makan terakhir jam berapa?”, “Ini operasi pertama kali?”, “Apa nama operasinya?”. Pasien perlu tahu nama operasinya agar tidak ada kesalahpahaman di akhir. Saya sendiri lupa nama tepatnya, tapi saya menjawab dengan bahasa yang sederhana saja: “Pengangkatan xxx xxx”. Alhamdulillah pas, wkwk.

Cukup lama saya menunggu di ruang tunggu itu sambil berbaring. Sambil mendengarkan percakapan dokter ke pasien. Sebenarnya mungkin suster ya, tapi saya tidak bisa membedakan. Sekitar setengah jam kemudian saya masuk ke ruang selanjutnya yang sudah lebih dingin. Di sana tekanan darah diperiksa, di pasang infus (it’s my first time!) dan ditanya-tanya kembali, memastikan saya tahu operasi apa yang akan dilakukan. Dokternya mengajak bercanda sehingga saya sedikit tenang.

Akhirnya saya benar-benar masuk ke ruang operasi. Kurang lebih sama seperti di film-film, ada ranjang dan ada lampu di atasnya hehe. Sambil mempersiapkan untuk memulai operasi saya ditanya-tanya kembali: “Orang mana?” , “Kerja dimana?” , “Sudah punya pasangan belum?”, “Tinggal dimana?”. Saya menjawab saja hingga akhirnya saya diminta bernafas menggunakan suatu alat bantu nafas yang ternyata berisi obat anastesi. Setelah beberapa detik, saya tidak sadarkan diri.

ICU

Saya tidak bermimpi sama sekali saat operasi. Saya ingat saya sempat diminta pindah kasur dan rasanya saya mual sekali. Setelah itu saya tidur dan saat sudah terbangun saya sudah di suatu ruangan yang ternyata ruangan ICU. Saya merasa cukup segar setelah tidur, hanya saja leher saya sedikit mengganjal. Saya kemudian mencoba mengamati keadaan di sekitar saya. Banyak alat-alat terpasang, saya menggunakan alat bantu nafas, hidung saya pun dipasang selang NGT (Nasograstik tube) untuk membantu makan. Leher saya terhubung dengan surgical drain. Tangan kiri saya dipasang infus, dan tangan kanan saya dipasang alat tensi darah otomatis. Alat tensi yang bekerja setiap setengah jam sekali. Intinya di ruang ICU ini seluruh aspek kesehatan setelah operasi dipantau secara khusus. Oh iya, saat terbangun saya langsung mengecek suara saya apakah masih ada. Alhamdulillah masih terdengar.

Di ruang ICU hanya saya sendiri dan dimonitor oleh suster dan dokter secara khusus. Saat saya terbangun saya mendengar suara adzan, saya berpikir itu adalah adzan Ashar karena operasi diperkirakan sekitar 2-3 jam. Saya mencoba mencari jam, namun tidak ketemu karena memang tidak terlihat karena saya tidak menggunakan kacamata. Saya tidak bisa membawa apa-apa saat operasi sehingga saya juga tidak bisa mengecek handphone untuk melihat jam berapa sekarang. Akan saya tanyakan kalau suster mendekat, pikir saya.

Melihat saya yang terbangun suster pun menghampiri saya dan menanyakan apakah saya mau minum. Saya masih takut berbicara sehingga saya hanya mengangguk saja. Saya diberikan air putih di gelas dan sedotan. Masker oksigen saya dibuka dan kemudian diganti dengan selang oksigen yang ditancapkan di hidung. Saya kemudian menanyakan jam ke suster dan betapa kagetnya saya ternyata sudah jam 7 malam. Suster kemudian menawarkan saya untuk berbicara dengan keluarga melalui WA. Ternyata susternya sudah menyimpan nomor orang tua saya.

Oh iya, saya di ruang ICU selama satu hari hingga hari esok siangnya. Salah satu yang momen yang paling diingat saat saya sempat sesak nafas karena saya menahan nafas untuk mengetahui efeknya pada pengukuran tensi darah (tolong jangan dicontoh, saat itu saya sedang terlalu kreatif karena tidak bisa tidur). Saat di ruang ICU itu memang membuat kita bisa jadi memikirkan semua hal karena tidak ada gawai atau buku untuk pengalihan pikiran.

Saya terkesan dengan susternya yang kreatif. Karena tidak ada ikat rambut, suster mengikat rambut saya menggunakan karet handscoon, seperti ini:

Ikat rambut menggunakan karet hand scoon

Setelah selesai dari ruang ICU kemudian saya dibawa ke kamar rawat inap biasa yang berbeda dari sebelumnya (from Request Time Out to Forbidden Room #IYKWIM). Saya dibawa menggunakan ranjang rumah sakit bersama satu porter dan suster. Akhirnya melihat suasana luar! Sayangnya saat di perjalanan saya mendengarkan percakapan suster dan porter tersebut yang cukup mengagetkan: ada seorang ibu yang teriak karena tidak terima perawat yang merawat anaknya positif COVID-19.

Saya sebagai pasien yang baru selesai operasi tentu menjadi takut akan kabar tersebut. Dan ternyata masih ada kabar yang lebih mengagetkan lagi, namun akan saya ceritakan sekalian di pos selanjutnya.

Terimakasih sudah membaca!

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s