Uncategorized

Tempat Tinggal Sementara

adalah dunia.

Itu benar tapi sebenarnya saya mau menceritakan tentang tempat tinggal yang ditempati sekarang. Kosan lebih tepatnya. Kosan ini adalah kosan terlama selama ini yang pernah saya tempati. Sebelumnya, saya sering berpindah kosan, bahkan lebih sering sebagai PGT alias Penghuni Gelap Tetap.

Awalnya saya juga penghuni gelap di kosan ini. Saya sering menginap di kamar Mba Wid (teman kuliah dan juga teman kantor) bahkan sebelum sama-sama bekerja di tempat sekarang. Saya dulu seorang komuter, sebutan untuk orang yang pulang pergi untuk bekerja di kota yang jauh dari tempat tinggalnya setiap hari. Pagi sekali berangkat dari rumah di Bogor ke Jakarta lalu kembali lagi malamnya. Jika saya ada keperluan sehingga bari bisa pulang terlalu malam, saya biasanya menginap di tempat teman saya tersebut.

Saya cukup sering menginap di sana tapi saya tidak tahu kalau Mba Kosan sampai hafal dengan wajah saya karena seingat saya, saya datang di malam hari dan pulang besok paginya. Sampai saat saya sedang wfh di lantai 4 (thanks to Firstmedia yang mengalami gangguan sehingga saya perlu mencari sinyal di atas) dan ditemani oleh Mba Kosan. Mba Kosan bilang kalau saya dulu gendut sekali saat masih sering menginap sebagai penghuni gelap. Saya memang dulu pernah sampai 10 kg lebih berat dari sekarang, padahal saya bolak-balik Jakarta-Bogor setiap hari kerja. Sepertinya berdesak-desakkan di kereta selama lebih dari dua jam setiap harinya bukan olahraga yang tepat bagi saya XD

Akhirnya saya memutuskan untuk kos setelah naik gaji, Alhamdulillah. Saya pikir dengan mengekos bisa lebih mandiri dan juga waktu yang biasanya dihabiskan di perjalanan bisa digunakan untuk hal lain atau sekedar untuk istirahat. Pas sekali saat itu kamar yang persis di sebelah Mba Wid kosong. Kosan saya itu termasuk sangat laris, jarang sekali kosong. Saya mengerti sih, kosan dengan fasilitas kamar mandi dalam, sudah termasuk listrik, laundry sehari langsung kering, bisa parkir motor di daerah Setiabudi, sangat sulit ditemukan yang harganya sekitar 1,5 juta untuk yang ber-AC dan 1 juta untuk yang non-AC. Tempatnya pun rapi dan bersih. Mba Kosan yang baik dan tegas sehingga tidak ada yang berani kotor di kosan, dapurnya juga selalu bersih, walaupun cuma ada di lantai 4.

Saat tahun pertama di kosan ini tuh saya cuma mengenal Mba Wid saja. Tahun berikutnya karena ada teman kantor lain masuk jadi saya kenal dua orang, wkwk. Padahal ada sekitar 20 orang di kosan. Saya juga tidak tahu kalau ada rooftop yang bisa dipakai untuk main bersama. Dulu lantai 4 terasa jauh sekali, setiap naik pasti terengah-engah di atas, sekarang sih sudah tidak, mungkin sudah terbiasa. Mungkin hikmah corona ya, saya juga jadi kenal banyak orang di kosan. Sudah mengetahui siapa pemilik sepeda serupa di kosan dan bahkan saya bisa meminjam pompa secara gratis, wkwk.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s