Uncategorized

Ekstrovert

Saat teman saya membahas mengenai tipe kepribadian MBTI di suatu grup, saya jadi penasaran mencoba lagi karena siapa tahu hasilnya berubah setelah lama WFH. Ternyata ada beberapa yang berubah, namun indikator pertamanya tetap ekstrovert haha. Teman – teman saya dengan mudah menebak kalau saya ekstrovert karena memang saya senang berinteraksi dengan banyak orang. Saya rasa energi saya didapat dari situ. Namun sebenarnya saya tidak menyadari kalau saya ekstrovert sebelum mencoba tes MBTI saat ospek kuliah.

Di masa sekolah (SMP dan SMA) saya tidak mempunyai banyak teman karena saya sangat malu untuk berkenalan atau memulai pembicaraan dengan orang yang pertama kali bertemu. Tidak seperti sekarang. Oh iya, tidak punya teman bukan berarti punya banyak musuh loh. Saya biasanya punya lingkaran pertemanan yang isinya maksimal 5. Saya sering kaget sekaligus senang kalau ternyata teman SMP atau SMA ada yang tahu nama saya padahal tidak pernah sekelas. Saya bukan pemenang olimpiade atau pemilik prestasi membanggakan lainnya jadi tidak terkenal kalau tidak sekelas. Kalau SD selain muridnya sedikit jadi hampir saling mengenali, saya juga memiliki beberapa prestasi yang lumayan, jadi saya cukup diingat.

Selain tidak pandai berkenalan, saya juga tidak mengikuti banyak organisasi. Daftar banyak sih, tapi akhirnya gabuters alias saya jarang menghadiri kegiatannya. Saya malas saja berkumpul, lebih nyaman pulang ke rumah lebih cepat. Saya mendaftar organisasi karena saya sebenarnya tertarik dengan kegiatannya di awal dan sekolah saya dulu terkenal bagus organisasi-organisasinya di kota saya. Awalnya semangat, namun akhirnya menyerah juga. Saya sedikit menyesal tidak mengasah kemampuan organisasi sehingga saat kuliah saya mencoba aktif di satu organisasi.

Saya masih ingat saya ditunggu di depan pintu agar saya bisa menghadiri suatu kegiatan yang memerlukan kuorum. Saya punya banyak alasan dan bahkan pernah saya diam-diam kabur. Jahat ya. Saya baru sadar saat di kuliah wkwk. What goes around really comes around. Giliran saya yang kena saat kuliah.

Sepertinya semuanya berubah saat masuk kuliah. Saya jauh dengan keluarga, jadi saya merasa perlu memiliki banyak teman dan saya tidak ingin lagi jadi gabuters. Saya sampai membaca buku “How to Win Friends and Influence People” tapi yang versi untuk remaja perempuan karya Donna Dale Carnegie. Menurut saya sih cukup berhasil, walau mungkin bagian “Influence”-nya sih belum, wkwk. Dari situ saya merasa berinteraksi dengan banyak orang yang berbeda itu menyenangkan. Saya juga jadi masuk divisi Pengembangan Sumber Daya Anggota di himpunan yang pekerjaan utamanya itu mengurusi orang XD.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s