Uncategorized

Olahraga

Masih ingat saya dulu iri dengan Abah (bapak) saya yang merupakan atlet komplek. Beliau sepertinya selalu diikutkan dalam pertandingan antar RT di beberapa cabang.: Voli, catur, badminton dan sepakbola. Sebenarnya mungkin karena jumlah warga di satu RT itu sedikit jadi selalu diikutkan wkwk, tapi Abah saya itu termasuk jago di pertandingan Voli dan Catur. Saya selalu excited untuk menonton pertandingan yang biasanya diadakan saat Agustus untuk menyambut hari kemerdekaan karena biasanya Abah ikut bermain. Apalagi kalau pertandingan voli, tim RT saya biasanya masuk hingga final atau semi final.

Nah, saya iri karena sepertinya minat atau bakat olahraga tidak turun kepada saya. Dari keempat olahraga yang Abah ikuti, saya tidak merasa bisa XD. Saya tahu aturan permainannya karena saya suka menontonnya, namun saat prakteknya sih payah banget ya hahaha. Saya sebenarnya suka pelajaran olahraga karena saya suka memakai baju olahraga, wkwkw. Saat pelajaran olahraga pun biasanya outdoor, jadi saatnya bisa keluar kelas. Saya senang di bagian atletik dibanding permainan menggunakan bola mungkin karena lebih sederhana.

Saat sekolah saya tidak melakukan banyak olahraga di luar jam sekolah namun berat badan masih bisa stabil karena saya dulu tidak suka jajan dan commute dengan berjalan kaki. Saat kuliah saya tidak pernah berolahraga lagi kecuali saat mata kuliah olahraga yang hanya di satu semester. Ke kampus ataupun kemana-mana lebih sering menggunakan angkot atau nebeng Mba Wid bonceng tiga haha (ya ampun dulu masih muat bertiga). Jalan kaki tidak terlalu sering dan itu pun jaraknya dekat. Berat badan masih normal karena memang tidak terlalu banyak makan. Namun anehnya wajah saya terlihat lebih chubby saat kuliah.

Saat memasuki dunia kerja setelah lulus, mungkin karena sudah tidak kepikiran skripsi dan juga sudah memiliki gaji, saya jadi sering makan dan jajan. Apalagi ada budaya WIB (Waktu Indonesia Break) di kantor alias jajan sore. Saya tidak pernah berolahraga dan sering naik busway dan kereta dan karena pulangnya malam jadi Abah menjemput saya di stasiun menggunakan motor. Berat badan saya langsung melonjak hampir 15 kg dari masa kuliah. Saya bahkan tidak menyadarinya karena saya tidak mengukurnya saat itu. Saya baru menyadari saat teman saya mulai bilang kalau saya terlihat gemuk.

Saya sebenarnya sudah mencoba beberapa olahraga. Saya pernah ikut klub bulutangkis di kantor. Saya mengikuti latihan 2 atau 3 kali namun seterusnya tidak ikut lagi karena saya sering cedera tangan entah mengapa, seperti lepas dari sendinya. Jadwalnya pun terlalu malam. Selanjutnya saya mengikuti klub lari setiap Selasa atau Kamis malam setelah jam kantor. Lari mengitari GBK bersama teman-teman kantor. Saya ikut beberapa kali namun saya tidak ikut lagi karena selain saya tidak kuat angin malam, saya juga tidak enak dengan teman-teman saya yang sering menunggu saya berlari dengan pace yang lama.

Saya akhirnya mencoba olahraga indoor seperti yoga. Saya diajak teman saya untuk mengikuti yoga yang dibimbing oleh temannya. Saya tertarik mencoba karena siapa tahu ini adalah olahraga yang tepat untuk saya. Selain sulit, ternyata saya juga bosan mengikutinya, wkwk. Saat pertama kali mencoba itu bahkan saya ketiduran di sesi pendinginan. Ada bagian dengan posisi rebahan sambil menutup mata selama beberapa hitungan dan mengatur nafas. Saya memang mudah sekali tertidur kalau rebahan. Saat saya membuka mata ternyata sudah dalam posisi namaste. Beberapa bulan kemudian kantor mengadakan sesi olahraga setiap minggu bergantian antara yoga, zumba, dan body combat. Saya mengikuti beberapa kelas (kecuali yoga tentunya) namun berakhir saat pandemi datang. Saya mencoba sesi zumba sendiri di rumah tapi tidak terlalu exciting (dan saya tidak memaksa diri) sehingga tidak menjadi rutinitas.

Ternyata saya lebih suka olahraga luar ruangan yang bisa mengeskplorasi jalan dan melihat-lihat pemandangan (walau kebanyakan gedung sih) seperti bersepeda, jalan kaki, dan berlari. Saya suka menemukan jalan baru yang belum pernah dilewati. Menikmati angin walau kalau di Jakarta sih udaranya tidak terlalu segar ya, lebih baik pakai masker. Kalau di Bandung malah lebih menarik karena udaranya yang segar dan penduduk sekitar yang ramah. Setiap saya olahraga keliling-keliling selalu ada yang menyapa bahkan memberi semangat. “Lari Neng?” “Semangat Larinya!”. Sarapannya juga seru-seru untuk dicoba. Kekurangannya itu jalannya tidak terlalu oke untuk lari kalau di pinggir jalan, tidak seperti pedestrian di Jakarta yang lebar-lebar.

Sekarang sedang mencoba merutinkan dengan mencoba menyelesaikan challenge-challenge di Strava. Teman-teman ternyata banyak yang berolahraga juga. Jadi motivasi juga lihat orang-orang bisa lari atau sepedaan bisa sampai puluhan kilo meter. Ala bisa karena biasa. Mungkin kalau saya bisa rutin olahraga saya bisa kuat berolahraga sampai puluhan km begitu. Aamiin

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s