Uncategorized

Impian

Sampai sekarang sebenarnya saya masih bingung impian saya sebenarnya apa, selain bahagia dunia akhirat. Maksudnya saya masih belum yakin pekerjaan atau profesi yang perlu saya tekuni untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat itu. Bukan berarti saya tidak senang dengan pekerjaan sekarang, tapi saya hanya belum yakin apa saya akan menekuni pekerjaan ini sepanjang hidup. Menjadi mobile developer memang keinginan saya sejak saya suka bermain games di hp. Saat itu ayah saya punya HP dengan OS Symbian S40. Saya sedih karena games di S40 lebih sedikit dibandingkan S60. Saya dulu punya keinginan kalau saya bisa membuat games sendiri saya akan memerhatikan HP dengan OS lebih rendah. Sekarang sih belum pernah bikin games sendiri sih di mobile, namun sekarang saya malah mendukung kalau mau menaikkan batas versi OS yang didukung.

Sebenarnya saat kecil kalau ditanya cita-cita itu saya selalu menjawab ingin menjadi profesor. Saya ingin jadi profesor karena saya dulu senang membaca buku mengenai penemu-penemu besar di dunia. Saat membacanya saya juga ingin menemukan sesuatu yang baru. Salah satu kartun kesukaan saya adalah Jimmy Neutron, karena dia membuat suatu hal untuk menyelesaikan masalahnya. Saat memasuki perkuliahan impian tersebut perlahan menghilang. Saya merasa saya tidak jenius dan tidak cocok sebagai akademisi, haha. Saya mulai kehilangan percaya diri saya karena membandingkan diri dengan teman-teman lain. Saya pikir saya tidak cocok di bidang akademisi, padahal karena saya mudah menyerah saja.

Oh iya, sebenarnya saat SMP orang tua saya pernah bilang kepada saya kalau mungkin tidak bisa membiayai saya untuk kuliah, karena biaya kuliah mahal dan lebih baik saya cepat bekerja saja. Saya disarankan untuk mengambil sekolah kejuruan saja. Saat itu saya hanya mendengarkan saja, saya tidak menyetujui atau menyanggah karena sesungguhnya saya bingung dengan keinginan saya sendiri. Namun di lubuk hati yang terdalam saya ingin seperti teman-teman lainnya yang ingin mengejar SMA terbaik di kota. Orang tua saya tidak pernah memaksakan keinginannya kepada saya. Orang tua saya mungkin tahu saya ingin melanjutkan ke SMA sehingga orang tua akhirnya mendukung. Alhamdulillah rezekinya mengikuti. Saya bisa masuk SMA yang saya inginkan. Setelah saatnya lulus, dilema datang lagi.

Saya bingung saya mau ambil jurusan apa. Yang saya tahu saya ingin sekali masuk ITB. Saya tidak tahu saya ingin menjadi apa. Saya lupa juga saya ingin menjadi mobile developer. Di awal-awal saya ikut-ikutan teman-teman saya yang ingin mengambil teknik industri. Sepertinya saat itu lagi nge-trend. Saya tidak tahu sama sekali dan orang tua saya sangat membebaskan saya. Jadilah saat harus menuliskan jurusan dan kampus impian di papan tulis saya menuliskan: Teknik Industri ITB.

Saya akhirnya masuk STEI ITB melalui SNMPTN. Alasan dibaliknya sedikit unik tapi mungkin akan dibahas di pos lain. Dilema kembali muncul saat pemilihan jurusan. Saya bingung harus memilih rumpun elektro atau informatika. Akhirnya saya memilih informatika dengan dua alasan utama: Saya tidak menyenangi mata kuliah dasar elektro saat TPB dan sepertinya kuliah informatika tidak perlu membeli banyak alat (perlu laptop saja). Saya masih lupa keinginan saya untuk menjadi mobile developer. Saya menjalani kuliah tanpa target nilai. Saya merasa bisa bertahan sampai akhir saya sudah bersyukur. Saya menyesali paradigma saya tersebut sekarang, haha.

Saat akhir tahun kuliah saya mulai bingung saya mau kerja apa. Saya merasa kemampuan coding saya biasa saja sehingga saya khawatir saya tidak akan diterima dalam interview kerja sebagai Software Engineer. Sebelum lulus saya sempat bekerja sampingan sebagai research assistant di Mobile Ecosystem Laboratory di Telkom Gegerkalong. Saya membantu penelitian untuk API management di bawah kakak tingkat saya di jurusan teknik elektro. Saya mendengar cerita pegawai-pegawai di sana yang sepertinya bahagia. Ada olahraga pagi bersama, lanjut kuliah dibiayai, sering makan bersama, ada izin untuk mengantar anak dulu (ya ampun saya dulu sudah kepikiran hal ini) yang sepertinya cocok dengan saya. Saya jadi bertekad untuk mendaftar Telkom setelah lulus.

Namun saya akhirnya belum mendaftar Telkom hingga sekarang dan saya akhirnya mendaftar start up dengan rekomendasi Mba Ya. Mba Wid juga di sana sehingga saya merasa akan menyenangkan kerja di sana. Saya diterima sebagai Quality Assurance and Deployment Engineer. Saat itu saya mengetes produknya dengan platform web dan juga EDC. Semua masih dilakukan manual. QA juga bertugas untuk men-deploy produk. Saat men-deploy ke production sih tidak dilakukan sendiri, tapi dilakukan oleh semacam devops (saya lupa nama jobnya saat itu) namun QA perlu mengawasi. Deployment ke prod biasanya dilakukan tengah malam sehingga saya perlu menginap di kantor. Saya hanya bertahan 6 bulan dan kemudian saya mencoba mencari pekerjaan di tempat lain sebagai Software Engineer. Saya tidak diterima sebagai SE namun ditawari sebagai QA Engineer. Saya terima karena selain benefit yang lebih baik, saya juga tidak mengetes manual lagi, namun sudah membuat automation test.

Saat itu saya berpikir akan menekuni bidang QA saja walau sempat iri dengan teman-teman yang menjadi software engineer. Memang rumput tetangga selalu lebih hijau, haha. Saya akhirnya diberi kesempatan untuk menjadi iOS Developer. Saya senang namun saya merasa tidak berbakat. Lagi-lagi saya terlalu mengikuti perasaan saya. Saya menyadari saya perlu lebih gigih lagi bukannya menghindar haha. Saya tidak tahu apakah ini adalah akan jadi jalan hidup yang tetap atau tidak, wkwk. But let’s see dan jalani dengan lebih baik untuk kesempatan yang sekarang. Siapa tahu di kemudian hari saya bekerja di Telkom seperti Fajrin Rasyid.wkwkwkwkkwkw

Categories: Uncategorized

2 replies »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s