Uncategorized

Kisah Kepalsuan dan Patah Hati di “Selamat Tinggal” karya Tere Liye

Judulnya serius sekali ya, haha. Sepertinya ini buku fiksi pertama yang saya baca di tahun ini. Saya lebih banyak membaca buku non fiksi seperti buku pengembangan diri atau buku biografi. Ada juga buku teknikal yang tidak kunjung selesai saya baca. Sebenernya saya lebih suka buku fiksi, namun entah setelah kuliah saya merasa malas membaca buku fiksi. Saya merasa membaca buku non-fiksi lebih bermanfaat padahal tidak juga, apalagi kalau tidak diterapkan wkwkwk. Saat mengunjungi toko buku diskon hari Minggu lalu kebetulan sekali ada diskon untuk buku-buku fiksi populer. Saya coba membeli dua buku dan beberapa komik yang juga lagi diskon. Tanggal dekat gajian plus diskon yang terbatas memang biasanya menjadi pemicu kuat untuk membeli sesuatu wkwk.

Salah satu buku yang saya beli itu buku “Selamat Tinggal” yang dikarang oleh Tere Liye. Saya bukan pembaca setia Tere Liye, bahkan hanya membaca satu bukunya yang berjudul “Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin”. Tidak seperti Andrea Hirata yang kedua seri bukunya saya baca , yaitu tetralogi Laskar Pelangi dan dwilogi Padang Bulan. Alasan saya membeli buku ini salah satunya karena judul buku yang sepertinya menyedihkan. Sudah lama saya tidak membaca yang sedih-sedih. Dan ternyata bukunya cukup membuat saya menangis di salah satu bagian bukunya.

Buku ini mengisahkan seorang mahasiswa Sastra di suatu universitas negeri ternama dekat stasiun KRL (tanpa perlu menuliskan nama universitasnya pun langsung ketebak). Dia berasal dari kota kecil di Pulau Sumatera dan merupakan siswa satu-satunya dari SMA-nya yang dapat masuk universitas ternama. Dia seorang penulis yang hebat, tulisannya sering masuk koran nasional. Aktif di organisasi. Dia dibiayai oleh Paklik dan Buliknya dengan syarat dia harus menjadi penjaga toko buku bajakan dekat kampusnya.

Masalah utama yang diceritakan di buku ini sebenarnya adalah bagaimana perjuangan tokoh utama ini untuk meraih kelulusan setelah 6 tahun berlalu. Dia sudah di ambang DO namun masih diberikan kesempatan satu semester lagi oleh Pak Dekan untuk menyelesaikan skripsinya dengan tema skripsi yang baru, yang menarik hati Pak Dekan. Skripsi yang membahas penulis hebat pada masanya yang tiba-tiba menghilang pada tahun 1965. Dia menemukan satu buku yang tidak pernah terbit yang selama ini dicari-cari. Dari buku itulah petualangannya dimulai, mencari dan menemukan berbagai petunjuk untuk menemukan jejak penulis legendaris yang hilang tersebut.

Masalah lainnya yaitu dilema tokoh utama dalam pekerjaan sampingannya sebagai penjaga toko buku bajakan. Sebagai penulis, dia merasakan kerugian yang dialami oleh penulis dan penerbit akibat buku bajakan.Di buku ini diceritakan betapa bencinya dia dengan pembajakan, bagaimana banyak penulis yang merasakan kerugian (bahkan ada yang hidup kesusahan) sedangkan penjual buku bajakan malah mendapatkan banyak keuntungan. Diceritakan juga bagaimana pembajakan buku menjadi marak dan juga pihak-pihak berwenang yang ikut andil dalam aksi penjualan buku bajakan tersebut. Tokoh utama ingin keluar dari pekerjaannya namun di sisi lain tidak enak dengan Paklik dan Bulik yang telah membiayainya selama ini.

Tidak hanya mengenai perjuangan kelulusan dan pembajakan buku, buku ini juga menceritakan cinta pertama sang tokoh utama yang akhirnya membuat sang tokoh patah hati. Ternyata patah-hati tersebut yang menjadi salah satu faktor dia vakum menulis dan tidak semangat dalam berkuliah sehingga lulus terlambat. Cinta pertama yang membuatnya jatuh dan juga bangkit lagi. Ya begitulah cinta deritanya tiada akhir 😂😂😂

Hal yang saya suka dari buku ini adalah beberapa bagian dari buku ini relate dengan bagian hidup saya. Ada bagian buku yang menceritakan negosiasi tokoh utama agar dapat mendapatkan perpanjangan masa studi dari Pak Dekan. Saya juga pernah mengalaminya, tetapi bukan karena patah hati. Saya pernah mengurus surat perpanjangan masa studi sampai ke Wakil Rektor agar saya bisa mendapatkan kesempatan lulus. Suatu pengalaman yang tidak ingin saya ulang lagi, wkwk. Oh iya ada salah satu ucapan dekan di buku yang sangat saya sukai saat menawarkan tokoh utama beasiswa S2:

” .. Kadang tidak ada korelasinya antara cepat atau lamanya seseorang menyelesaikan kuliah dengan kualitas orang tersebut”

Kata-kata tersebut membuat saya sedikit semangat kembali. Saya selama ini merasa rendah diri karena lulus lebih lama dari yang lain, bahkan saya belum berani bertemu dosen-dosen untuk meminta rekomendasi untuk melanjutkan kuliah. Saya merasa saya tidak pantas, padahal mencoba meminta rekomendasi saja belum, hoho.

Selain itu, karena beberapa latarnya di KRL dan stasiun, ada beberapa kejadian yang juga relate dengan saya. Tokoh utama diceritakan paling anti untuk menaruh tas di rak bagasi atas tempat duduk. Sangat big no no karena banyak modus pencurian dengan bertukar tas atau mengambil secara cepat saat kereta berhenti (seperti jambret). Di buku tersebut juga diberikan tips naik kereta yang sudah sering saya lakukan, yaitu jika ada dua kereta dengan tujuan yang sama dengan jadwal berdekatan, naiklah kereta yang kedua karena dipastikan akan lebih longgar. Itu benar, saya sudah sering mengalaminya. Lebih banyak orang yang tidak sabaran sehingga akan naik yang pertama, dibandingkan menunggu kereta berikutnya, padahal jarak kedua kereta tersebut berdekatan.

Lalu mengapa judulnya “Selamat Tinggal” ? Kalau saya jelaskan di sini nanti takutnya jadi spoiler, wkwk. Tapi akan saya tulis sebagian quote di halaman terakhir:

Kita tidak pernah sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat kepada orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji untuk tidak melakukannya lagi, memperbaikinya, dan menebus kesalahan tersebut. Berani mengucapkan “Selamat Tinggal”

Tere Liye

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s