Uncategorized

Kisah Makhluk Kontrakan: Setahun Terasa Cepat

Sebelum resmi diusir, kami sudah pindah ke kontrakan duluan. Kami menyewa angkot untuk membawa barang-barang kami dari asrama ke gang Cisitu Lama. Barang-barang saya tidak terlalu banyak, jadi cukup mudah untuk saya merapikan barang. Saya masih ingat saat itu saya duduk di depan bersama pak supir dan saya banyak bercakap-cakap dan Bapak Supir tersebut salah menebak suku asal saya. Ayo tebak Bapaknya nebak saya suku apa *penting sekali wkwk*.

Cisitu saat itu sangat ramai dibanding dengan Kanayakan. Ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi. Lebih banyak mahasiswanya sih dibanding mahasiswi. Jalanannya juga lebih ramai. Kalau sore, sering sekali macet diakibatkan jalan yang sempit yang dipakai oleh orang parkir sembarangan. Rasanya saya ingin jalan saja kalau sudah macet begitu. Penjual makanannya juga lebih banyak dibandingkan sekitar asrama. Sate Padang, Ayam Cobek, Batagor Kuah, Tahu Sabar Menanti, Warteg, Sabana, Dendeng Om Gede, dan lain-lain yang saya sudah lupa. Beli yang enak kalau lagi banyak uang, tapi jadi berkesan sekali. Kalau malam sekali suasana sangat sepi. Saya pernah berjalan malam sekali setelah kumpul himpunan, dan tidak ada kendaraan sama sekali. Untung selalu ada teman yang menemani, jadi tidak takut.

Kembali ke masalah kontrakan. Harga kontrakan yang perlu dibayar tiap orang per tahun kalau tidak salah ingat tidak sampai 2 juta, sangat murah sebenarnya, per bulan tidak sampai 200ribu. Kontrakan kami sebenarnya tidak ada isinya, namun pemilik kosan memberikan beberapa kasur lantai untuk kami. Tinggal dipakaikan seprai dan kardus atau karpet di bawahnya. Kami perlu membeli lemari dan toren air. Saya masih ingat kami membeli lemari di supermarket di PVJ. Harganya sangat murah saat itu. Oh iya, selain untuk menyimpan baju, lemarinya juga dipakai sebagai sekat antara ruang tamu dan ruang ganti baju XD. Seru juga melihat lemari dijajarkan begitu. Ruang tamunya cukup luas walau sudah dibagi dua. Kontrakan memiliki satu kamar mandi (bayangkan untuk dipakai ber-8 XD), dapur dan juga loteng untuk tempat jemur dan toren. Uniknya, pintu kamar mandinya agak pendek, sehingga untuk yang berpostur tubuh tinggi sering kejedot.

Di kontrakan ini, saya sekamar dengan Haifa dan Sri. El dengan Mba Ya. Epi dengan Mba Arum. Mba Wid sendiri. Kami sering berinteraksi kalau libur saja sepertinya, karena kehidupan tingkat 2 yang sibuk. Sibuk kuliah dan juga organisasi. Kebetulan teman-teman kontrakan termasuk mahasiswa yang aktif. Ada yang aktif di himpunan, ada yang aktif di unit atau UPT seperti Comlabs. Saya masih ingat awal pindah ke kontrakan, sebagian anggota kami mengikuti persiapan pentas seni. Mba Ya, Sri, dan Mba Arum mengikuti persiapan pentas tari untuk Dies Natalis UKM. Mba Wid mengikuti unit PSTK, saya lupa nama pagelaranya. Mereka sering pulang hingga larut malam hampir setiap hari kala itu. Saya yang saat itu belum menjadi anggota himpunan sudah ketiduran saat mereka pulang. Oh iya, saya itu dulu tidak bisa bergadang, sudah tidur sebelum jam 10. Setelah masuk himpunan, dunia saya berubah *lebay*.

Masalah utama di kontrakan itu adalah air. Jadi ternyata kontrakan kami ini berbagi air dengan kontrakan sebelah yang diisi oleh satu keluarga kecil: ibu, ayah, dan satu bayi. Listrik pun satu masih satu rekening listrik, sehingga kami perlu membagi tagihan dengan rumah sebelah. Oh iya, saya pernah menceritakan juga di blog ini saya pernah mematikan listrik untuk kejutan ulang tahun, lupa kalau akan memengaruhi rumah sebelah. Kalau tidak salah sih tagihan listrik dibagi dua ya. Nah, untuk pembagian air ini yang sebenarny kalau secara logika sih adil, tapi dalam pelaksanannya rasanya tidak adil. jadi, pembagian tagihan air ini per kepala. Jadi karena kami ada 8 orang, dan rumah sebelah ada 2 orang (bayi tidak dihitung, padahal sebenarnya butuh air juga ya) tagihan dilakukan pro rata, jadi kami membayar 8 bagian, rumah sebelah 2 bagian. Tagihan air ini sangat mahal, ratusan ribu kalau tidak salah. Kami yang jarang di rumah dan kadang tidak mandi ini merasa sering kehabisan air. Kami sering mendengar rumah sebelah menggunakan mesin cuci, suaranya terdengar sampai rumah kami. Kami yang membayar 8 bagian ini malah kesulitan air. Saat itu, kami malas berdebat, jadi kami terima saja. Jadi setelah mendekati akhir tahun tentu saja tidak kami perpanjang, wkwk.

Selain konflik eksternal, di kontrakan kami juga pernah mengalami konflik internal. Tidak semua berjalan dengan rukun dan damai. Rasanya saya sering jadi pelaku utamanya haha. Saya ingat saya pernah menangis tiba-tiba karena terlalu baper. Padahal kalau dipikir-pikir lagi sekarang sih rasanya lucu juga bisa merasakan hal itu. Jadi belajar banyak bagaimana tinggal bersama dengan orang lain. Dulu kalau di rumah saya anggap semua tahu apa yang saya rasakan, dan memang biasanya tahu. Kalau tinggal dengan orang lain, saya belajar untuk mencoba saling mengerti dan menghormati privasi satu sama lain.

Setelah masa kontrakan berakhir, sebagian dari kami berpisah, sebagian lagi meneruskan ke kosan yang sama. Saya, Mba Ya, Sri, Mba Wid, dan El pindah ke tempat yang sama, dan masih di Cisitu juga, bertemu dengan teman satu fakultas lain: Hesti, Pewe, dan Aul. Sisanya masing-masing pindah ke tempat berbeda, dan sepertinya lebih bahagia dibanding di kontrakan dulu, hahaha.

Kemarin saya sempat mengunjungi kontrakan lama karena penasaran, begini penampakannya:

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s