Uncategorized

“Kamu Terlalu Banyak Bercanda” !!!

Buku “Kamu Terlalu Banyak bercanda” (KTBB) dari Marchella FP

Saat melihat buku ini di toko buku diskon saya langsung teringat teman kampus yang meenyarakan saya untuk lebih serius, jangan terlalu banyak bercanda. Saya memang merasa dulu sering sekali bercanda, kalau rapat di kampus saya sering sekali tiba-tiba menggaring, memberi tebak-tebakan, dan hal tidak serius lainnya. Saya memang mersa bahagia saat teman saya ada yang mengerti jokes saya dan tidak marah walau diledek terlalu garing. Setelah masuk dunia kerja, kebiasaan itu masih terbawa namun berkurang sedikit demi sedikit. Setelah beberapa tahun bekerja dan apalagi wfh di pandemi ini, saya malah jadi terlalu serius. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya mencoba membuat orang tertawa. Mungkin kemampuan saya membuat jokes online belum mumpuni.

Kembali ke masalah buku. Untuk buku ini, saya menilai buku dari sampulnya. Saya membeli buku ini karena saya suka hard covernya. Saya tidak sempat mencari review untuk buku ini. Saya lihat sampulnya bagus dan judulnya yang related ditambah diskon, saya langsung mengambilnya dan membawanya pulang setelah membayar. Buku ini adalah lanjutan dari buku “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.”. Masih dengan tokoh utama yang sama, yaitu Awan. Saya tidak membaca buku NKCTHI, tetapi saya menonton filmnya di bioskop. Karena saya suka dengan filmnya, saya merasa ingin membaca kelanjutannya. Saya tidak tahu kalau buku NKCTHI itu bukan buku cerita, namun lebih ke kumpulan surat Awan (yang menggambarkan perasaan saat itu). Lebih mirip buku puisi sebenarnya dengan ilustrasi. Nah buku KTBB ini adalah kumpulan surat/catatan Awan selama 10 tahun. Di bukunya dituliskan bahwa buku KTBB ini tentang hitam untuk putihnya NKCTHI. Di buku ini, banyak perasaan gelap yang dicurahkan seperti kesedihan, kemarahan, kekecewaan, ketakutan, dan perasaan kalut lainnya.

Buku ini sebenarnya bisa dibaca dalam waktu beberapa jam saja, bahkan bisa satu jam saja, namun saya tidak dapat benar-benar mengerti dalam satu kali membaca. Saya juga tidak terlalu paham dengan sastra, sehingga saya hanya menikmati dari yang saya pahami saja, yang saya pernah mengalaminya. Saya menandai halaman-halaman yang saya menyentuh saya dengan menggunakan label.

Oh iya, saya baru (sepertinya) mengerti maksud dari judul buku ini dari tulisan di bagian akhir. Catatan-catatan perasaan gelap Awan selama 10 tahun terakhir ini dikubur di tanah kosong di belakang rumahnya. Sebelumnya Awan “mengubur” perasaan gelap tersebut. Dia memendam perasaan negatifnya tersebut dan meyakini semua akan baik-baik saja, melaluinya dengan bercanda. Namun memendam perasaan dan berpura-pura semua baik-baik saja bukanlah solusinya. Dipendam tidak membuat perasaan itu hilang, tapi dengan menghadapi perasaan tersebut. Saya sangat setuju, dulu saya senang sekali memendam kekesalan, kekecewaan, dan kemarahan saya. Energi negatif yang saya pendam itu membuat saya meledak di kemudian hari. Sekarang bisa berkurang setelah saya ceritakan dengan menulis atau bercerita dengan teman. Kasihan teman saya ya sebenarnya, wkwkwk. Kadang ada perasaan yang cuma ada di pikiran kita saja, setelah membacanya lagi atau bercerita, kita bisa berpikir ulang dan akhirnya menyadari kalau sebenarnya tidak seburuk itu. Kalaupun memang benar buruk, ya setidaknya lebih lega, hehe. Apa sih yang saya tulis ini , wkwk.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s