Uncategorized

Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja

Salah satu teman saya mengadakan semacam kegiatan akhir tahun untuk membaca satu buku satu hari. Dia memiliki klub buku yang sebelumnya pernah saya ikuti (Midnight Reading Club ), namun belakangan saya tidak bisa ikut karena selama dua bulan terakhir ini saya tidur tidak lebih dari jam 10 malam, sedangkan klub baca bareng ini dimulai pukul 10 malam. Teman saya ini aktif di twitter dan saat saya melihat kampanye membaca satu buku satu hari dari tanggal 25 Desember hingga 1 Januari ini, saya tertarik untuk ikut. Namun saya tidak memberitahunya ataupun ikut grupnya karena saya pun tidak yakin saya bisa menyelesaikan satu buku dalam sehari. Ada beberapa buku yang ingin saya baca, namun bukunya tebal-tebal dan sebagiannya bukan buku fiksi sehingga saya perlu waktu lebih lama untuk membacanya.

Buku pertama yang saya baca hari ini adalah buku karya Dancing Snail (sepertinya sih nama samaran ya) yang berjudul “Bukannya Malas, Cuma Lagi Mager Aja”. Buku terjemahan dari Korea Selatan kalau saya lihat dari detil buku di halaman depan. Sebenarnya ini buku Mba Wid yang dipinjamkan kepada saya saat berkunjung ke rumahnya dua bulan lalu. Saat itu kami wfh bersama di rumahnya karena akan ke Bandung menggunakan mobil Mba Wid pada sore harinya. Awalnya Mba Wid mengira buku ini menceritakan atau membahas energy saving mode karena Mba Wid ini memang orang yang suka dengan efisiensi energi hahaha. Ternyata buku ini adalah buku pengembangan diri yang didalamnya berisi ilustrasi-ilustrasi dan kiat menghadapi pikiran-pikiran negatif yang membuat kita kelelahan, khawatir berlebihan. depresi dan jadi malas melakukan apa-apa. Saya memang pernah di posisi seperti itu, mood berantakan, malas melakukan hal produktif, menyalahkan diri sendiri, tiadk percaya masa depan dll. Mungkin Mba Wid sudah lelah dengan curhatan saya sehingga saya diminta baca buku ini XD.

Sudah izin diberi label oleh pemilik. Banyak bagian yang saya suka jadi banyak yang ditandai.

Saya tidak langsung membaca buku setelah itu karena saya sedang tidak mood untuk membaca buku pengembangan pribadi. Saya sempat membaca beberapa halaman dan saya kurang tertarik karena bagian-bagian awalnya kurang relate dengan saya. Penulis membahas pikiran-pikiran negatif di awal sebelum membahas cara menghadapinya, karena di awalnya kurang relate dengan masalah saya, saya jadi takut menambah pikiran negatif baru. Intinya saya memang sedang malas membaca buku yang membahas pikiran negatif, depresi, dan semacamnya saat itu jadi saya simpan untuk nanti. Saat saya mulai. membacanya lagi hari ini, dengan pikiran dan hati yang sudah tenang, ternyata buku ini menarik. Penulisnya memberikan tips tanpa menggurui dengan menceritakan pengalaman dia pribadi. Buku ini mengajak kita untuk memaklumi diri kita sendiri saat kita sedang down dan malas untuk melakukan hal yang produktif. Terkadang saya terjebak dengan pikiran saya sendiri, bertanya-tanya mengenai kelemahan diri sendiri, membandingkan dengan orang lain dan kemudian cemas apakah saya bisa sukses. Kecemasan itu bukannya membuat saya lebih termotivasi malah semakin lemah Di buku itu tertulis begini:

Hidupku terasa lebih baik setelah aku tidak lagi berpikir bahwa hidupku harus selalu indah. Dengan adanya sikap menerima segala hal yang ada dengan tulus, setiap usaha yang dilakukan tidak lagi terasa sebagai keterpaksaan tapi menjadi sebuah proses untuk mencintai diriku sendiri. Tentu saja di awal aku banyak marah dan kesal atas ketidakadilan di muka bumi ini. Tapi, jika mencoba hal itu dan terus melakukannya, pada suatu saat kita akan bisa menerima diri kita apa adanya, serta akan datang hari tanpa penyesalan atas segala usaha yang kita lakukan. Dengan menanamkan pikiran sederhana layaknya ‘lakukan saja semampu dirimu’, maka kita sudah bisa untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Keunggulan yang kita miliki akan bisa terlihat jika kita berani mengejar hal-hal yang baik.

hal 51

Di dunia ini tidak hanya penuh dengan kecemasan. Debaran hati, rasa penasaran, atau keseruan tidak akan bisa dirasakan begitu saja hanya dengan membayangkannya. Hanyalah orang yang melemparkan kehidupannya ke dalam laut sambil menghayati rasa takut yang muncul yang bisa mengerti bagaimana cara bermain dengan ombak.

hal 125

Karena sekarang suasana hati saya sedang baik jadi baca yang bagian negatifnya itu tidak membuat pikiran atau hati saya berat haha. Ilustrasinya juga lucu di beberapa bagian, tidak semua berbentuk tulisan sehingga tidak membosankan . Selanjutnya saya mau membaca buku yang sudah lama saya belum selesaikan juga tapi bukan buku pengembangan diri. Semoga saya bisa memberikan review bukunya di tulisan berikutnya dengan lebih baik, aamiin.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s