Uncategorized

COVID-19 Test

Saya ingin menceritakan pengalaman saya ikut tes deteksi COVID selama ini. Mungkin sebenarnya sudah banyak yang sudah mengikuti tes Covid ini, baik rapid test antibodi, antigen, maupun PCR. Saya kebetulan sudah mengikuti ketiganya masing-masing satu, masing-masing untuk kebutuhan yang berbeda dengan harga yang tentunya berbeda juga. Sebenarnya pengalaman mengikuti rapid test antibodi sudah pernah saya ceritakan di sini, namun akan saya ceritakan lagi sedikit agar perbandingan kebutuhan saya di masing-masing tes bisa terlihat.

Rapid Test Antibodi

Saya melakukan rapid test antibodi pada bulan Juni lalu di kantor. Saat itu kantor sedang mengadakan rapid test untuk beberapa karyawan terutama yang masih mendapat giliran WFO. Saya sendiri terpilih karena masih ada kuota dan tinggal di Jakarta sehingga mudah untuk akses ke kantor. Oh iya dulu rapid test cuma ada rapid test antibodi, yaitu tes dengan mengambil sampel darah dan dicek apakah ada antibodi yang didapatkan saat terinfeksi COVID-19. Rapid tes antibodi ini kurang akurat sebenarnya, karena antibodi baru terbentuk saat minggu kedua terkena COVID. Bisa saja saat dites sebenarnya sudah terinfeksi namun belum terbentuk antibodinya. Selain itu, antibodi yang terbentuk bisa saja berasal dari virus corona lain selain virus COVID-19 ini (SARS-CoV-2)

Saat itu beberapa minggu sebelumnya saya demam tinggi dan tidak disertai batuk selama beberapa hari, sebenarnya sudah dites dan ternyata tipes. Mungkin dengan rapid tes ini bisa meyakinkan kembali kalau saat itu benar-benar bukan COVID dengan mengecek darah saya apakah sudah punya antibodinya atau belum. Ternyata hasilnya negatif untuk keduanya sehingga saat itu saya memang benar-benar hanya tipes. Oh iya saat itu harga rapid test masih cukup mahal, sekitar 200 ribu ke atas seperti rapid test antigen sekarang. Saat itu rapid tes antibodi masih bisa dipakai untuk perjalanan ke luar kota. Kalau sekarang minimal pakai yang rapid test antigen.

PCR (Polymerase Chain Reaction) Test

Berbeda dengan rapid test antibodi yang menggunakan sample darah, PCR menggunakan sampel dari dahak, lendir, atau cairan di nasofaring (bagian antara hidung dan tenggorokan), orofaring (bagian antara mulut dan tenggorokan), atau paru-paru yang diambil dengan cara swab. PCR Test ini mendeteksi adanya virus di RNA sample yang diubah dulu menjadi DNA. PCR ini adalah metode tes COVID yang paling akurat sehingga menjadi syarat oleh dokter sebelum saya menjalani operasi tiroid pada Juli tahun lalu. Harga PCR ini lebih mahal dibandingkan dengan rapid test yaitu mulai dari 899 ribu hingga 3 jutaan (dari yang pernah saya cari). Semakin cepat hasilnya keluar, semakin mahal harganya. Oh iya, harga yang paling murah dengan hasil yang cepat (kurang dari sehari) bisa didapatkan di GSILab yang berlokasi di Cilandak, Jakarta Selatan. Teman saya pada beberapa hari yang lalu melakukan PCR di sana dengan harga 899 ribu dan hasilnya keluar tidak sampai 24 jam. Harga PCR yang benar-benar same day pun 1.188 ribu, lebih murah dibandingkan PCR test di rumah sakit di Jakarta pada umumnya.

Karena saya akan operasi di RS Pelni, maka saya juga melakukan tes di sana. Harga PCR di sana saat itu 1,2 juta dengan hasil yang keluar H+2. Alhamdulillah saat itu karena merupakan pre-requisite dari operasi jadi bisa ditanggung asuransi. Pelni menggunakan mobil kontainer di halamannya sebagai tempat untuk melakukan tes. Waktu itu saya menunggu cukup lama dan tidak ada tempat menunggunya. Agak riskan karena tempat duduk yang ada itu hanya di tempat tunggu RS yang cukup banyak orangnya. Saya waktu itu mencoba mengambil tempat agak jauh dengan resiko saya tidak bisa duduk. Saya berdiri sekitar lebih dari 30 menit sampai alat yang diberikan bergetar. Pertama kali saya swab itu saya masih khawatir sakit karena alatnya itu seperti korek kuping yang sangat panjang. Ternyata tidak sakit, lebih ke geli dan kurang nyaman saja. Hasilnya Alhamdulillah negatif juga dan saya diizinkan untuk dioperasi.

Rapid Test Antigen

Minggu ini saya merasa meriang dan hidung mulai berisi alias pilek tapi tidak terlalu parah dan tidak disertai batuk. Saya juga merasa badan saya demam namun saat diukur dengan termometer suhunya normal saja dengan suhu paling tinggi 37 derajat Celcius. Saya juga lebih sering bersin. Karena saya memang kehujanan saat lari sore-sore pada hari Minggu, saya mengira saya hanya masuk angin. Saya mencoba istirahat berhari-hari dengan tidak olahraga sama sekali ditambah makan yang banyak (merelakan berat badan yang naik, hiks, tapi yang penting sehat dulu). Saya bahkan akhirnya mengambil izin sakit karena badan masih meriang hingga tiga hari. Setelah libur sehari badan memang enakan, namun ternyata masih meriang saat malam harinya hingga pagi.

Minggu ini saya menerima kabar beberapa teman saya positif Corona. Walaupun saya tidak bertemu dengan mereka dan tempat tinggal mereka berbeda kota, saya tetap khawatir apakah saya terkena juga. Jumlah kasus baru tiap harinya meninggi sekaligus positive ratenya. Saya tidak merasa kontak erat dengan siapapun kecuali saat tahun baru. Bisa saja saya tertular melalui barang karena memang saya sering menerima paket di minggu ini. Saya semakin khawatir setelah teman saya yang pernah terkena bercerita ke saya kalau dia juga meriang dengan suhu yang tidak tinggi saat diukur dengan termometer. Teman saya menyarankan untuk segera melakukan tes covid. Awalnya saya berniat untuk melakukan tes PCR. Saya sudah mencari tempat tes PCR di Bandung dan menanyakan ke beberapa teman. Saya belum menemukan tempat PCR yang secepat dan semurah GSILab di Bandung. Teman-teman saya menyarankan untuk swab antigen saja dulu karena lebih cepat dan murah dan juga memang sudah dipakai diagnosa dokter (kata teman saya). Saya akhirnya memutuskan untuk swab antigen dulu dan kalau memang positif baru PCR.

Awalnya saya mau tes di Borromeus karena teman saya, Tika, pernah tes di sana. Untuk melakukan tes di sana diperlukan reservasi H-1 melalui WA dengan harga 250 ribu dan hasil keluar maksimal 4 jam setelah tes. Namun setelah saya coba bertanya ke HR, Mba Rani, yang kebetulan juga tinggal di Bandung (sekalian bertanya proses reimbursement), saya disarankan untuk mengambil tes di lab saja dibanding rumah sakit karena lebih sepi. Dia menyarankan untuk ke Parahita di Pelajar Pejuang karena biasanya di sana sepi. Saya akhirnya mencoba untuk menghubungi dua lab Kimia Farma dulu yang lebih dekat namun telepon sibuk. Saya akhirnya mencoba Parahita di Jalan Pelajar Pejuang dan ternyata lebih mudah dihubungi. Saya pun bisa langsung tes di hari itu juga tanpa reservasi walau harganya lebih mahal 49rb yaitu 299rb. Karena Mba Rani pernah di sana dan bisa direimburse, saya akhirnya memutuskan ke sana.

Saya ke sana saat istirahat makan siang. Perjalanan memakan sekitar 15 menit dengan menggunakan motor kalau dari tempat saya sebenarnya, namun banyak terhenti di lampu merah. Sesampainya di sana, saya mengambil nomor antrian dulu, ternyata langsung dipanggil saat itu juga. Setelah mendaftar saya diminta menunggu. Tidak sampai 5 menit saya sudah dipanggil. Rapid tes antigen ini dilakukan dengan cara swab sama seperti PCR, namun hanya mengambil sample di hidung. Tidak seperti PCR sebelumnya yang mengambil sample di mulut juga. Swab kedua kalinya ini saya tidak terlalu geli. Prosesnya sangat cepat dan Insya Allah aman karena memang sepi, hanya satu orang di ruang tunggu selain saya dan kami duduk sangat berjauhan. Prosesnya pengambilannya cepat, sepertinya perjalanan bolak-balik lebih lama dibanding durasi saya di lab ini, wkwk. Hasilnya dikirimkan melalui Whatsapp 2 jam kemudian. Alhamdulillah hasilnya negatif, berarti saya masuk angin. Saya memang terlalu sombong dengan lari hujan-hujanan karena sebelumnya tidak apa-apa. Ternyata kalau lari pagi yang tidak apa-apa kalau hujan-hujanan, kalau lari sore-sore dan kehujanan langsung masuk angin, haha. Walau sebenarnya masih misteri juga sih kenapa masih meriang setelah beristirahat cukup lama. Setidaknya bukan Covid dulu karena takut menularkan ke yang lain. Saya juga sebenarnya khawatir kalau positif mau isolasi mandiri di mana haha. Apakah kosan dan daerah sekitar mau menerima? Semoga sehat-sehat selalu ya.

Sumber: Alodokter, Kontan

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s