Uncategorized

Jauh Dekat

Beberapa orang ada yang pernah bilang ini kepada saya : “Ini mah jauh Jul!”. Persepsi saya terhadap jauh dan dekat memang agak berbeda dengan orang lain. Tempat yang masih bisa dicapai dengan berjalan kaki tanpa lelah menurut saya itu dekat. Kalau luar kota, tempat yang masih bisa dilewati KRL juga bisa dianggap dekat. Sebenarnya bukan saya saja yang berpikiran seperti itu, ayah, ibu, dan adik-adik saya mungkin juga seperti itu. Sepertinya pengaruh besarnya adalah ayah saya. Ayah saya itu gemar sekali berjalan jauh. Saat masih muda dulu, sebelum kepala 6 seperti sekarang, ayah saya gemar berjalan kaki pagi-pagi setelah subuh tanpa alas kaki. Biar sehat katanya. Kadang pakai sandal refleksi 😂. Kalau saya sakit, ayah saya selalu berpesan untuk jalan pagi menghirup udara segar dalam-dalam dan mengeluarkannya. Menikmati udara pagi.

Saat SD, jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh, di saat tetangga saya yang bersekolah di tempat yang sama diantar jemput menggunakan kendaraan, saya berjalan kaki saja. Ayah saya juga jarang mengantarkan saya walau memiliki motor. Kendaraan umum hanya ada angkot dan itu pun harus jalan kaki ke depan gerbang perumahan. Letak rumah saya itu hampir paling belakang perumahan jadi kalau mau naik angkot itu harus berjalan lebih dari 1 km, hampir setengah perjalanan ke sekolah, belum ditambah resiko macet dan harus bayar ongkos pula, bisa bisa uang jajan berkurang, haha. Akhirnya saya memilih untuk jalan kaki lewat jalan perkampungan. Lebih dekat dan lebih adem walaupun medan jalanannya mendaki dan menurun. Saya juga harus melewati setidaknya 3 tanjakan dengan kemiringan hampir 90 derajat. Jalanan tidak jarang sangat licin ketika hujan. Sepatu saya tentu saja sering membawa oleh-oleh kalau becek. Banyak tempat-tempat yang cukup sepi dan menakutkan kalau malam seperti kuburan dan pepohonan. Itulah alasan saya selalu pulang tepat waktu dan jarang berorganisasi (alasan).

Berjalan kaki itu memang banyak manfaatnya menurut saya. Selain saya dulu jarang sakit dan berat badan tidak berlebih, saya juga jadi mengenali jalan dan tahu jalan-jalan tikus. Tidak seperti saat kuliah yang lebih sering naik angkot, haha. Saya baru hapal jalan-jalan di Bandung malah sekarang-sekarang ini saat sudah sering berjalan kaki. Saya juga banyak belajar saat berjalan, saya tahu bagaimana proses pembuatan tahu karena saya sering melewati pabrik tahu. Saya melihat kedelainya diinjak-injak 😂. Saya juga bisa memprediksi kapan Jakarta banjir dengan melihat volume dan deras air sungai di sepanjang jalan yang saya lewati. Oh iya saya jadi ingat, uang tabungan saya pernah hanyut di sungai karena tertiup angin, hiks. Untungnya ada penjual bakso yang baik hati yang mau mengambilkan.

Saya juga sering lewat rel kereta api, mengamati kereta-kereta yang lewat. Tenang saja, saya bukan termasuk oknum yang suka melempar batu ke arah kereta. Saya eering terkaget-kaget kalau kereta lewat karena kereta sering membunyikan klakson kalau dekat stasiun. Dulu stasiun masih bisa dilewati walau tidak punya tiket. Saya sering menemui tukang majalah di stasiun untuk mengetahui apakah Bobo edisi baru sudah terbit. Saya juga suka melihat headline-headline berita koran dari hasil melihat-lihat saat memandangi lapak koran. Dulu masih ada koran lampu merah dengan judul headline yang ajaib. jadi hiburan juga buat saya saat itu. Kalau lelah, saya duduk-duduk di bangku stasiun. Waktu itu saya tidak menyangka saya akan naik kereta setiap hari saat SMP dan SMA.

Saya juga sering jajan di warung yang saya lewati, wkwkkw. Kalau sedang panas sedang terik, saya sering mampir ke warung di jalan untuk membeli es seperti jasjus dan Hore. Pernah juga beli ciki-cikian berhadiah uang. Habis itu batuk deh, haha. Ya ampun jadi kangen masa-masa SD. Masa- masa kulit jadi menghitam, haha. Tetangga saya bahkan bilang kepada saya kalau saat baru pindah ke Bojonggede kulit saya masih putih bersih. Setelah beberapa lama, dan sering berjalan kaki di bawah sinar matahari langsung tanpa menggunakan sunblock (dulu mana peduli haha), kulit saya jadi lebih gelap dan kusam. Kulit saya memang tidak putih sih dari lahir, mungkin maksud tetangga saya itu kulit saya kusam sekali saat itu wkwkk.

Walau saya di kabupaten Bogor, bukan di kota hujannya, tapi tetap kecipratan hujan. Setiap hari hampir selalu hujan di sore hari walaupun bukan musim hujan. Kalau musim hujan, hujannya dimulai dari pagi hari. Itu alasan saya selalu membawa payung hingga sekarang. Ada kenangan yang tidak terlupakan oleh saya. Saya pernah terjatuh ke parit saat hujan deras karena jalanan banjir sehingga saya tidak menyadarinya. Baju saya basah dan kotor. Tempatnya masih jauh dari rumah sehingga saya tidak bisa langsung pulang. Alhamdulillah ada warga yang menolong saya, dan memberikan tumpangan untuk saya hingga hujan berhenti. Saya belum sempat membalas budi Bapak dan Ibu pemilik rumah tersebut. Semoga Bapak dan Ibu masih sehat dan rezekinya lancar selalu.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s