Uncategorized

Masa Kini, Masa Gitu

Setelah beberapa pos belakangan ini saya lebih banyak membahas masa lalu, mari kita kembali ke masa kini. Terhitung 308 hari sudah berlalu dari masa Work Form Home ini dimulai. Belum genap setahun tapi rasanya sudah lama sekali. Teman-teman dekat saya satu persatu meninggalkan Jakarta hingga sekarang setahu saya sudah tidak ada lagi yang tersisa di Jakarta kecuali teman kosan yang memang masih WFO. Teman kantor saya, Fani dan Mba Wid sudah pergi terlebih dahulu di bulan awal WFH. Teman yang selama ini bertahan di Jakarta juga yaitu Junita dan Olin sudah relokasi. Olin pulang ke Kediri dan Junita ke Bandung. Saya sendiri sudah pindah lokasi WFH ke Bandung selama 2 bulan lebih dengan membawa suatu misi.

Awalnya saya berencana hanya seminggu di Bandung untuk mengusir kepenatan WFH di Jakarta.Walau di Bandung pun sebenarnya sama juga WFH sendiri juga tapi berpindah tempat ternyata sangat berpengaruh terhadap mental. Rasanya seperti energi ter-recharge kembali. Misi utama saya sebenarnya ingin mengambil legalisir ijazah saya yang tertinggal setahun lalu di kosan teman saya. Teman saya menyimpannya di suatu tempat yang dia sendiri pun lupa. Saya sudah mencoba mencarinya ke berbagai tempat dan berbagai sudut bahkan sudah video call dengan empunya kamar. Hasilnya nihil namun teman saya yakin kalau berkas tersebut pasti ada di kamar tersebut. Saya sendiri malas kalau harus legalisir ulang karena kampus yang ditutup, walau sebenarnya saya punya teman yang memiliki akses ke dalam kampus. Eh tapi TUnya belum tentu dibuka ya. Intinya ribet lah.

Walau misi utama gagal, namun ternyata saya mendapatkan hasil dari misi sampingan lain. Sebelum pindah ke Bandung saya memang sudah berniat untuk olahraga rutin. Sayangnya saat di Jakarta saya tidak bisa olahraga rutin salah satunya karena faktor cuaca. Tidak seperti Bandung yang lebih sering hujan di sore hari, Jakarta lebih sering hujan di pagi hari. Selain itu, bisa juga karena saya saat itu sudah terbiasa dengan kebiasaan saya tidur lagi setelah Shubuh untuk menambah waktu tidur dan juga efek dari September Sadness yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Saya merasa ingin tidur terus.

Entah mengapa saat di Bandung, kebiasaan bangun pagi sebelum Shubuh dan tidak tidur lagi itu kembali lagi. Kalau tidur lagi malah jadi mengantuk di siang hari. Jika tidak bisa keluar untuk lari atau berjalan kaki, saya workout di rumah. Aisyah beberapa bulan lalu pasti kaget mendengar kalau tahu sekarang bisa workout, wkwk. Biasanya sudah menyerah sebelum 5 menit berakhir. Mungkin dulu saya tidak percaya dengan kemampuan saya sendiri. Atau mungkin tepatnya dulu malas berkeringat karena udara Jakarta yang panas sedangkan sekarang malah ingin berkeringat wkwkk. Saya semakin semangat berolahraga setelah teman saya dan Ibu saya bilang kalau saya semakin ramping wkwkkwk. Ibu saya khawatir kalau saya mengurangi makan karena terlalu ingin kurus. Saya memang berniat mengurangi makan, apa daya saya selalu terjerumus dengan godaan perkulineran Bandung.

Jadilah saya tidak hanya seminggu di sini. Teman-teman saya bahkan jadi lebih banyak di sini. Teman baru dan teman lama. Tempat tinggal saya dan Jun malah jadi lebih dekat, masih satu RW. Kontrol tiroid dan kontrol gigi pun sudah bisa dilakukan di sini. Mungkin itu hikmahnya hijrah.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s