Uncategorized

Sesal dan Kesal

Karena saya mengantuk dan kesal, mari saya ceritakan saja di blog sebelum tidur. Semoga tidak menyebarkan efek negatif ke teman-teman yang membaca. Sesungguhnya saya sedikit kesal kalau melihat komentar-komentar negatif atau jahat di suatu sosial media. Memang sih di beberapa kasus memang yang dikomentari itu salah. Namun menurut saya akun yang tidak dikunci bukan menjadi alasan yang baik untuk kita bisa berkomentar seenaknya. Bukan berarti apa yang dilakukan di dunia virtual itu tidak akan dihitung amal dan dosanya di hari kemudian. Jujur kalau saya takut menyakiti hati orang lain lewat jempol saya ini. Pahala saya belum tentu banyak, tapi malah saya bagi-bagikan melalui kata-kata saya yang buruk. Kalau dipikir-pikir tidak semua orang juga sih percaya akan hari kemudian, jadi saya akan menceritakan kisah teman saya, siapa tahu bisa berempati.

Saya punya teman saat kuliah. Teman beda angkatan, satu divisi di himpunan. Dia orangnya kritis sekali, rajin membaca dan pandai menulis. Saya sebagai ketua divisi saat itu saya merasa kurang kalau dibandingkan dengan dia. Dia sering membantu saya brainstorming ide, menutupi kekurangan saya di bidang kaderisasi. Sesungguhnya saya iri dengan kemampuan dia mengkritisi sesuatu dan bisa menuliskan apa yang dia pikirkan. Tulisan dia tidak jarang sangat panjang. Itulah ciri khasnya. Setiap presentasi pun begitu, dia menjelaskan detil sehingga tidak jarang jadi terlalu lama dan mungkin bagi sebagian orang membosankan. Masalahnya, teman-temannya saat itu sering komplain dan sering meledeknya kalau tulisannya panjang sekali. TLDR.

Saya sering sekali bertemu dengan dia karena satu lab dan satu divisi. Kami berteman juga di sosial media sehingga saya tahu persis seberapa banyak yang meledek dia. Sebenarnya jadi pembully-an sih menurut saya. Saya juga bersalah sih, karena saya pernah tidak sengaja mengesalkan juga. Awal-awalnya dia masih kuat, masih menulis hingga pada suatu titik dia tidak menulis sama sekali hingga sekarang. Di sosial media manapun, Bukan berarti tidak aktif bersosial media lagi karena saya melihat dia masih berinteraksi melalui tombol like. Rasanya sudah bertahun-tahun berlalu, namun dia masih tidak menulis dari yang sebelumnya menulis dengan jumlah yang banyak hingga tidak sama sekali. Betapa komentar orang lain (yang mungkin tidak bermaksud mematikan semangat) membuat dia jadi seperti ini.

Saya tidak tahu apakah dia masih marah dengan saya atau dengan orang-orang yang meledeknya itu. Itu jadi pelajaran bagi saya untuk lebih berhati-hati dalam berkomentar. Bercanda pun jangan sampai mematikan semangat orang lain. Saya jadi ingat adik saya pernah tiba-tiba sedih karena salah satu posnya dikomentari oleh temannya dengan tidak baik. Untungnya dia memberitahukannya kepada saya sehingga saya bisa meluruskannya. Untungnya adik saya merupakan tipe yang pemaaf dan tebal muka sehingga dia tetap terus berkarya sehingga sekarang bisa mencapai puluhan subscribers. Jujur saya kaget juga banyak yang mau subscribe #eh (adik saya tidak tahu blog ini wkwkwk)

Itulah yang saya kesalkan akhir-akhir ini. Kesal dan Sesal. Semoga teman saya tersebut segera menulis lagi. Aamiin

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s