Uncategorized

Setengah Dekade

Bulan Februari ini menandai 5 tahun saya menjalani kehidupan pekerjaan profesional. Lebih terlambat dibanding teman-teman seangkatan yang lain, namun menurut saya sudah cukup cepat kalau dilihat dari tahun lulusnya, haha. Berawal dari mengunjungi booth job fair di kampus pada bulan Oktober tahun 2015. Saya mendaftar di salah satu perusahaan yang sedang melakukan pameran di sana. Alasan utama mendaftar di kantor itu sebenarnya dari rekomendasi teman-teman saya: Mba Ya dan Mba Wid yang sudah promosi dari semenjak mereka bekerja di sana. Saya sendiri sesungguhnya saat itu tidak punya banyak harapan dan keinginan mengenai benefit. Asalkan penghasilannya cukup untuk saya dan juga bisa bekerja dengan teman yang sudah dikenal. Jujur pada awal bekerja saya masih mencari tempat bekerja yang pegawainya ada yang saya kenal sehingga tidak terlalu banyak adaptasi. Di pekerjaan selanjutnya saya tidak mencari hal itu lagi, lebih banyak ke tempat kerja yang nyaman dan benefit yang sesuai.

Pemilihan jobdesk pekerjaan saat itu tidak saya pikirkan terlalu matang. Saya masih ingat ada beberapa lowongan yang tersedia sebagai mobile engineer, backend engineer, dan quality assurance. Saya tentu ingin sekali menjadi mobile engineer karena merupakan salah satu keinginan saya sejak saat lama. Impostor syndrom yang saya idap semenjak kuliah membuat saya tidak percaya diri dan tidak memiliki growth mindset. Saya pikir saya tidak akan kompeten jika saya daftar sebagai mobile engineer dan saya ingin sekali bekerja di sana. Saya pun memilih QA sebagai pilihan pertama. Kalau saya ingat-ingat lagi sekarang, saya sama-sama tidak kompeten di keduanya karena saya pun merasa tidak teliti dan tidak suka pekerjaan yang berulang. Menurut saya, menjadi QA perlu kesabaran yang tidak berbatas yang tentu saya tidak merasa memiliki itu. Akhirnya saya memilih QA sebagai pilihan pertama dan mobile engineer di pilihan kedua.

Oh iya, ini juga menandakan 5 tahun saya bekerja di Jakarta. Sebelumnya saya sebenarnya tidak terpikir untuk bekerja di Jakarta karena saya sebenarnya lebih suka di Bandung. Orang tua tentu saja menyarankan saya bekerja saya di Jakarta agar bisa bolak balik rumah. Saya pun tertarik bekerja di Jakarta karena teman-teman saya bekerja di Jakarta (lagi lagi saya dulu friend oriented). Saya pun resmi jadi komuter. Bolak balik ikut meramaikan kapasitas KRL. Dari yang awalnya berangkat sangat pagi sampai berangkat lebih siang. Mulai berani tapi tentu tidak sampai telat masuk kantor.

Awal menjadi QA, saya cukup banyak mengeluh dan sempat sampai menangis. Di kantor pertama saya, saya merasa QA diposisikan lebih rendah dibanding developer. Jika ada bug, yang disalahkan pun QA. Deployment juga merupakan salah satu tugas QA sehingga harus ikut deploy di tengah malam (karena ada down time sehingga memilih malam hari). Saya juga perlu mengetes manual dan melakukannya berulang setiap hari karena belum ada automation. Untuk memulai automation test, diperlukan resource yang cukup agar pekerjaan reguler tetap tertangani. Di sisi lain, saya juga belum mengenal automation test seperti sekarang. Pernah juga saya ditempatkan di bagian project dan kena omelan klien. Walaupun begitu, sebenarnya saya tidak terpikir untuk resign karena saya pikir ini adalah hal yang memang perlu saya hadapi, hingga suatu ketika teman-teman saya merencanakan untuk resign. Karena saya saat itu friend oriented, saya tidak mau ditinggal sendirian sehingga saya ikut mencari pekerjaan baru. Lucunya, saya yang duluan mendapat pekerjaan baru saat itu dan malah meninggalkan teman-teman.

Di kantor kedua, saya masih menjadi QA Engineer. Kalau kali ini, saya sudah berusaha untuk mendaftar sebagai software engineer namun saya tidak lolos di tahap interview. Saya kemudian ditawarkan untuk menjadi QA Engineer, dan akhirnya saya mencobanya dan Alhamdulillah diterima. Di perusahaan kedua ini saya tidak menguji manual lagi. Tugas saya saat itu merancang automation test untuk suatu divisi. Saya mulai menganggap QA sebagai pekerjaan yang menyenangkan dan memiliki banyak prospek ke depannya. Banyak hal yang perlu saya pelajari di automation. Namun di perusahaan ini saya hanya sebentar karena saya memiliki masalah lain yang pernah saya ceritakan di pos pos terdahulu.

Kantor ketiga adalah kantor saya sekarang. Uniknya, kantor ini ternyata pernah saya temui saat mengunjungi booth job fair di kampus dahulu. Dulu saya tidak mendaftar karena simply tidak ada teman yang saya tahu di sana, haha. Saat masuk kantor pertama, teman-teman saya bercerita kalau tes masuk sana termasuk sulit dan penyaringannya sangat ketat. Memang cukup unik sih tesnya, karena perlu pair programming dengan beberapa orang. Ternyata kantor ini yang membuat saya senang sekali untuk menjadi Test Engineer. Tidak ada perbedaan kasta antara developer dan tester. Banyak hal baru yang bisa digali, teman-teman yang suportif baik dari sisi pekerjaan maupun dari sisi sosial. Belum pernah saya merasa sesemangat ini bekerja. Di saat saya sudah menentukan career path ke depannya untuk menjadi Test Engineer (sudah survey ke automation tester terkenal di dunia *gaya*), perusahaan memberikan saya kesempatan untuk menjadi iOS Engineer. Impian saya dahulu. Tentu saja saat ditawarkan impostor syndrom ini muncul lagi. Saya sempat bilang saya tidak punya skill sama sekali sehingga takut tidak bisa kontribusi. Namun CTO saya bilang kalau saya bisa jadi super junior developer, banyak mencatat, dan belajar dari teman-teman lainnya. Saat CTO saya saja percaya, masa saya sendiri tidak percaya, haha.

Perjalanan setelah itu memang tidak mulus. Trauma-trauma coding di masa kuliah lalu kadang muncul dan membuat saya tidak percaya diri. Sempat berpikir untuk berhenti dan berbalik. Menginginkan kejayaan masa lalu. Tapi selalu ada yang menghentikan itu, entah saat 1 on 1 atau saat tidak sengaja membaca pengalaman-pengalaman orang. Saat menyelesaikan satu task, walau lama, membuat saya semangat lagi. Saat – saat pandemi juga merupakan saat-saat yang berat karena tidak bisa pair programming dan bertanya secara langsung. Masalah kesehatan dan masalah-masalah lain juga mempengaruhi pikiran saat itu. Sempat dua hari cuti (padahal tidak kemana-mana dan tidak melakukan apa-apa) dan berpikir jauh. Mengumpulkan semangat yang sudah berserakan entah kemana. Saya mencoba berjalan tanpa terlalu banyak berpikir ini jalan yang tepat atau tidak atau memikirkan jalan yang lain yang terlihat lebih mudah untuk saya. Saya tidak sadar kalau posisi saya sekarang sudah jauh lebih maju dibanding di awal. Saat penilaian kemarin, walau masih belum maksimal, ternyata saya berprogress. Saya kurang memberikan apresiasi pada diri sendiri dan terlalu melirik pencapaian orang. Sekarang saya mencoba mengobati impostor syndrom saya karena saya masih terlihat merasa inferior menurut superior saya. Sepertinya rasa inferior ini sudah menjadi luka batin yang perlu saya sembuhkan perlahan. Baru saya sadari setelah membaca suatu buku. Kapan-kapan saya share hihi. Terimakasih sudah membaca!

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s