Uncategorized

Learning Style

Saat membaca buku “You Do You” nya Koko Ruby, tepatnya di bab awal mengenai cara mengenali diri sendiri, saya jadi mencari tahu kembali style belajar yang saya sukai itu seperti apa. Di buku itu dijelaskan pentingnya mengenali style belajar agar bisa menjadi lebih produktif. Cara belajar yang dimaksudkan di buku itu adalah melalui media apa kita bisa mudah menyerap informasi dan juga waktu belajar yang paling efektif sesuai chronotype.

Cara belajar berdasarkan media yang dibahas di buku tersebut adalah berdasarkan VARK model, yaitu Visual, Auditory, Reading/Writing, dan Kinesthetic. Penasaran style yang disukai yang mana? Bisa coba mengikuti kuesioner di website VARK model ini: https://vark-learn.com/the-vark-questionnaire. Setiap orang tidak harus hanya memiliki satu style, tapi bisa saja gabungan dari beberapa style tersebut (multimodal). Hasil kuesioner saya menunjukkan saya gabungan dari semua media dengan hasil yang tertinggi di Kinesthetic dan Read/Write. Kalau saya pikir-pikir saya memang lebih mengerti pelajaran jika membaca bukunya dan menuliskan intisarinya. Saya sejujurnya tidak terlalu menikmati audio book karena saya merasa tidak bisa fokus jika hanya mendengarkan suaranya. Saya sudah mencobanya beberapa kali namun tetap tidak bisa belajar secara maksimal. Ujung-ujungnya baca teksnya juga. Sedih juga sih karena beberapa buku di Scribd yang saya suka hanya tersedia dalam format audio book tanpa ada teks.

Dalam mempelajari hal yang praktikal seperti coding, merajut atau merakit meja saya tidak bisa langsung mengerti dengan hanya membaca apalagi menulisnya. Saya perlu mempraktekkannya, melakukan trial dan error beberapa kali hingga akhirnya mengerti. Untuk coding saya rasa banyak orang yang sama seperti saya. Saat belajar merajut pertama kali, saya diberikan petunjuk tertulis yang termasuk dalam kit perajut pemula yang saya beli. Saat membaca petunjuk yang disertai gambar tersebut saya tidak terbayang sama sekali. Akhirnya saya membuka Youtube dengan kata kunci teknik merajut yang disebutkan di petunjuk tersebut. Saya menonton videonya berkali-kali, mencoba teknik merajut tersebut dengan cara yang berbeda-beda dari video berbeda-beda hingga akhirnya bisa dan menemukan cara yang paling mudah. Entah berapa kali rajutan tersebut dibongkar pasang. Saat merakit meja pun begitu. Saat melihat gambar petunjuknya saya mengerti bagian mana ke bagian mana yang perlu ditempel dan juga baut penyambungnya. namun ada baut yang tidak cukup familiar yang ternyata perlu urutan masuk khusus agar terkunci (saya lupa namanya). Akhirnya saya mencari videonya, dan mengikuti sesuai video. Alhamdulillah jadi juga setelah 4 jam berlalu, wkwk.

Memilih waktu belajar yang produktif juga penting, Ada orang yang lebih suka belajar di pagi hari, ada yang baru bisa belajar di malam hari. Dr Breus yang dikenal sebagai “Sleep Doctor” dan juga penulis “The Power of When” menyatakan bahwa ada 4 chronotype yang direpresentasikan oleh empat hewan (lumba-lumba, singa, beruang, dan serigala) yang dapat kita pakai untuk mengetahui waktu produktivitas kita berdasarkan waktu alami kita (kapan kita bangun, tidur, bersemangat). Saat mengetahui waktu alami kita, kita bisa menjadwalkan kegiatan kita untuk mengoptimalkan fokus dan performa sehingga bisa menjadi lebih produktif. Untuk mengetahui chronotype kita dapat mengikuti kuis di website Dr. Breus atau Doctor Oz. Contoh penjadwalannya dapat dilihat di gambar di bawah ini.

Saya sendiri memiliki tipe singa. Saya senang bangun pagi sekali dan bisa berpikir jernih di waktu tersebut. Dulu ibu saya sering membangunkan saya sebelum subuh untuk belajar karena saya mudah mengerti pada jam tersebut. Menurut penjadwalan di atas, waktu terbaik untuk olahraga adalah pukul 5-6 sore, namun saya tidak bisa karena beririsan dengan jam kerja sehingga saya olahraga pada pagi hari untuk berlari, atau malam hari untuk olahraga kekuatan wkwk. Selebihnya sih sesuai dengan jadwal di atas sampai jadwal minum kopinya pun persis sama. Dari jadwal tersebut, bisa diketahui saya tidak bisa mengerjakan sesuatu yang banyak berpikir di malam hari karena saya sudah mengantuk. Saat awal kuliah dulu, saya sempat kesulitan untuk menyamakan waktu bekerja kelompok dengan teman-teman karena teman-teman lain lebih banyak yang lebih produktif di malam hari. Solusi akhirnya yaitu mengubah metode pengerjaanya jadi shift-shiftan, teman saya mengerjakan pada malam hari kemudian saya melanjutkannya di pagi harinya.

Intinya memang kita perlu lebih mengenali diri kita sendiri untuk mencapai posisi dan hasil yang terbaik. Saya masih belum produktif karena terkadang saya nakal juga, waktu efektif belajar malah dipakai untuk menonton film atau bermain. Pelan-pelanlah ya. Semangat belajar!

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s